Sekolah.. rasanya itu adalah hal paling penting yang menjadi perhatian utama seluruh keluarga di manapun. Sekolah bagi anak-anak kita dimulai sekitar umur 3 tahun ( playgroup). Aku sendiri zaman dahulu kala malah tidak merasakan sekolah TK..maklum.. saat usia 3-5 tahun masih zaman ti kotok dilebuan..alias zaman baheula, apalagi sekolah TK saat itu belum banyak. Dan sekarang, kondisinya dah jauh banget, 100 persen sekolah anak dimulai dari TK bahkan PG (Play group). Selain itu, mungkin karena tuntutan kurikulum sekolah yang makin tinggi, pendidikan anak-anak tidak cukup dengan pendidikan formal di sekolah namun juga ditambah dengan kursus tambahan atau les atau lainnya.
Di kalangan ibu-ibu (jika aku sedang ‘ngerumpi’ dengan mereka) maka biasanya obrolan tidak jauh dari soal pendidikan anak. Aku sendiri beberapa waktu belakangan ini sedang memikirkan apakah anakku perlu mendapat pendidikan tambahan atau kursus atau les. Saat itu dijadikan bahan pembicaraan maka aku tahu bahwa beberapa temanku memang telah memasukkan anaknya mengikuti beberapa les, mulai dari bahasa inggris, logika matematika, kumon, aritmatika bahkan melukis. Beberapa anak temanku yang satu tingkat lebih tua dari anakku, kelas 3 SD, sekolah di SD dengan system full day school alias sekolah SD yang dimulai dari jam 6.15 pagi hingga jam 1 siang. Lalu pada sore hari, ia mengikuti les logika matematika ( 3 hari per minggu ), melukis dan Bahasa Inggris pada hari lainnya. Hal yang aku tanyakan saat itu adalah..” anaknya mau Bu?”.. lalu dalam hati aku bertanya..
”perlukah itu?”..
”apakah saat ini tuntutannya harus seperti itu ?” ….
“ apakah anak kita tak lelah ?” ….
“apakah kalau tidak mengikuti kursus tambahan, anak-anak tidak dapat mengikuti pelajaran sekolah ?”
dan pertanyaan lain seiring dengan ‘keanehan’ dan kecanggihan dunia pendidikan kita saat ini. Dan kebetulan, beberapa hari lalu aku membaca sebuah artikel di Kompas yang membahas hal yang berkaitan dengan masalahku.
MengalihkanTanggung Jawab Belajar (Sawitri Supardi, Psikolog)
Sebuah kasus yang diceritakan oleh seorang ibu yang memiliki anak laki-laki kelas 3 SD. Anak ini kalau belajar di rumah keliatannya sudah hafal tapi saat ulangan, ia sering mendapat nilai 3,4,5 dan saat ditanya kenapa, katanya pelajaran yang dihafalkan lupa.
Sementara itu, berdasarkan tes intelegensia, anaknya termasuk anak cerdas, bisa duduk diam dalam waktu relative lama, membuat gambar ( anak ini memang suka menggambar) pemandangan dengan konsentrasi dan ketekunan kerja yang mengagumkan. Menurut ibunya, sepulang sekolah dari siang hingga sore, kecuali Minggu, anak ini mengikuti les matematika, bahasa inggris, bahasa mandarin, pelajaran sekolah dan les tenis.
Analisis
1. Persaingan terselubung diantara para ibu membuat anak tanpa disadari menjadi objek penderita karena dijadikan alat memuaskan ambisi prestasi ibunya dengan melimpahkan beban kepada anak dan menuntut anak melakukan bermacam les yang belum tentu diperlukan dan disukai anak.
2. Terjadi proses pengalihan tanggung jawab belajar/sekolah dari anak sebagai subjek yang bersekolah kepada ibu dan pengasuhnya. Dengan kata lain, ibu dan pengasuhnyalah yang bersekolah di SD ( catatan : semua keperluan dan kebutuhan saat anak akan sekolah disiapkan dan diladeni sang pengasuh, seringkali sang ibu mencari tahu ke teman-teman anaknya tentang tugas atau PR yang harus dikerjakan karena anaknya kadang tidak teliti atau lupa mencatat PR apa yang diberikan guru di sekolah).
3. Anak menjadi subjek pasif dalam kegiatan belajar karena hanya bereaksi dan menunggu hasil kerja keras ibu dan pengasuhnya, sehingga tampak seolah tidak mampu berkonsentrasi.
4. Anak kehilangan hak memilih aktifitas jenis permainan dengan bebas karena padatnya acara berbagai macam les yang harus diikutinya. Padahal bermain dengan memilih permainan sesuai hasrat serta minat anak identik dengan belajar keterampilan hidup yang memicu motivasi anak untuk menunjukkan prestasi sosialnya kelak kemudian hari.
Nah.. untuk teman-teman blogger yang udah jadi emak-emak..bapak-bapak atau calon emak dan bapak.. lakukanlah evaluasi sejauh manakah urgensi anak untuk mengikuti berbagai les pelajaran dan berbagai keterampilan yang serta merta membuat anak justru mengalihkan tanggung jawab belajarnya kepada ibu dan atau pengasuhnya… !
Saat ini aku berencana memasukkan anakku mengikuti satu les saja yaitu aritmatika atau kumon. Selain memacu cara berpikir anak dengan logika, ini aku ambil karena anakku jika ditanya pelajaran yang paling disuka, jawabnya adalah matematika ( kayak emaknya..)….
Lalu… pertanyaan lain muncul.. bagaimana dengan anak-anak lain yang tidak punya kesempatan mendapat tambahan pendidikan karena alasan ekonomi.. ??
My ability is limited but I try to give the best to my children…
mungkin gini kali ya,..
Setiap orangtua memiliki background sendiri2, dan itu sangat berpengaruh terhadap bagaimana meraka menerapkan pola mendidik ke anak. (meski tujuannya sama). Apa pendidikan apa yang didapat ( yang tidak terbatas pada pendidikan akademisi) sekarang ini, adalah cerminan dia di masa depan.
Klo dibalik ya jadi gini; “menjadi seperti apa/ bagaimana kita saat ini adalah hasil dari apa yg kita lakukan kemaren/dulu.., dan yang terjadi dengan kita besok adalah hasil dari apa yg kita lakukan sekarang”. ini sangat mengesampingkan faktor nasib, luck dkk.
Yang terpenting bukan pendidikan apa, tapi pendidikan yang bagaimana.
kebnyakan aktiviuas kasian juga anak-anak ya?
semoga kelak bila aku memiliki anak mampu mengerti anak…
salam
hmm..nice topic sis.kalau saya nanti saya lihat daya pikir anak saya seberapa dulu.kapan ya? heheh
@ firman : hmm.. sepakat..! apa yang terjadi dengan kita esok adalah hasil dari apa yang kita kerjakan sekarang.. seep..!
@ endra : iya..porsi bermain sangat penting..bermain juga bisa sambil belajar. Hmm.. moga nanti jadi ayah yg baek deh..hehe
@ aisha : duh..didoain cepet punya momongan deh.. amin..
klo saya amati sih, anak2 itu mmg jd “korban” gengsi orangtuanya. di-leskan bukan karena kebutuhan si anak tp keinginan orangtuanya (apalagi untuk tujuan kontes2n), itu melanggar hak anak untuk bermain dng dunianya.
les aritmatika? sip itu ceu, untuk memacu cara berpikir dan main logika sejak dini.
assalamualaikum
apa kabar sovi
postingnya bagus, hidup anak indonesia
@ guskar : iya..rasanya si sebagian besar memang gitu.. saya sering liat jadi kasian banget anaknya.. kayak robot gitu..bagaimanapun juga saat anak main, ia belajar bersosialisasi, belajar nilai2 sosial, nilai hidup.. tul ga?
walau bagaimana orang tua memang harus berperan lebih untuk pendidikan anak-anaknya. yang terpenting kita harus selalu siap menjadi motivator bagi anak-anak bukan menjadi diktator yang hanya siap marah . baik itu saat mereka sukses, apalagi di kala mereka gagal.
@ shalimow.com : kabar baik.. makasi ya
@ bongjun : iya..betul bang..!
orang tua harus lebih jeli dalam melihat potensi anak dari kecil jangan ampai ketika menginjak bangku kuliah salah jurusan rugi besar, pindah fakultas bahkan pindah kampus yang menghabiskan banyak biaya…