‘Berduka sangat banyak ragamnya, tidak terbatas saat orang tersayang meninggal. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berharga dapat sangat menyakitkan, membawa kesedihan panjang, mengguncang keseimbangan.’
Tertarik mengangkat tema psikologi ini ke dalam blogku, karena ‘duka’ pastinya pernah dialami oleh semua orang. Walau berbeda kadarnya namun duka seringkali menjadi sangat berpengaruh pada aktifitas keseharian kita secara keseluruhan.
Lalu apa kata psikolog tentang duka dan cara mengatasinya..?
Berduka adalah respons alamiah terhadap hilangnya seseorang atau sesuatu yang sangat penting bagi kita. Situasinya dapat beragam, mungkin putus hubungan cinta, ditinggal meninggal orang terdekat, hilang kontak dengan anak atau seseorang yang disayang, kehilangan rumah yang dibeli dengan susah payah atau kehilangan pekerjaan.
Kita berduka dengan cara berbeda-beda dan pemulihan berlangsung bertahap, tidak dapat dipaksakan segera. Ada yang sangat takut dengan emosi yang dirasakan sehingga mencoba menekan dan tidak mengakui, menyangka dengan cara itu periode berduka akan segera selesai. Ini kurang dianjurkan karena rasa sedih, marah dan tak berdaya yang tak diakui justru dapat memunculkan kebingungan, kekosongan dan rasa tak nyaman jangka panjang.
Seorang psikiater terkenal, Elisabeth Kubler-Ross, dari penelitiannya terhadap pasien penyakit terminal menemukan, orang melalui beberapa tahapan berduka. Temuannya ini bermanfaat untuk memahami dinamika penghayatan kita dalam situasi berduka umumnya :
(a) Tidak percaya atau pengingkaran (“dia tidak mungkin seperti itu!” atau “pasti salah..aku tidak sakit”)
(b) Marah (“mengapa ini terjadi..” apa salah saya..? ini tidak adil !”)
(c) Situasi ‘tawar menawar’ (“aku hanya bisa berubah jika Engkau mengembalikannya padaku..”)
(d) Depresi (“aku sangat sedih..”), hingga akhirnya
(e) Mampu menerima situasi
Pengamatan menunjukkan, kesedihan dapat muncul sejak awal dan perlahan menghilang sejalan dengan kemampuan menerima situasi. Juga, orang tidak perlu harus melalui semua tahapan untuk dapat pulih dari dukanya.
Bagaimana Mengatasi Duka?
Pertama-tama, duka akan lebih mudah diatasi bila kita mengakuinya. Merawat dan menyayangi diri sendiri menjadi hal penting. Kita mengungkapkan perasaan dengan berbagai cara yang sesuai untuk membantu kita melewatinya. Ada yang lebih rajin menulis buku harian, pergi ke alam terbuka berteriak sekeras-kerasnya, setiap malam menangis sampai sesak dada atau membuat ‘surat perpisahan’ untuk menyelesaikan hal-hal mengganjal, bukan untuk diposkan tetapi untuk melegakan perasaan.
Dukungan social dari orang yang peduli dan bisa dipercaya akan banyak membantu. Kadang yang menyayangi kita sangat ingin membantu, tapi ia tidak tahu caranya atau khawatir mengganggu, karenanya tidak ada salahnya kita bersikap terbuka dan jujur untuk meminta dukungan. Bila rasa duka tidak jua hilang, hidup terasa tidak berguna, terus berpikir tentang kematian, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak tersambung dengan orang lain, kehilangan kepercayaan atau tak mampu lagi menjalani aktifitas sehari-hari dengan baik, kita memerlukan bantuan praktisi kesehatan mental. (Kristi Poerwandari).
Aku sendiri pernah mengalami masa-masa duka yang aku ingat betul hingga saat ini, ketika aku harus berpindah tempat tinggal dari kota kelahiranku, Bandung, ke kampung halaman ayahku, ketika harus meninggalkan Cirebon, ketika tidak dapat kontak dengan orang yang kusayangi dan beberapa cerita duka lain setelah itu. Di sisi lain, aku sendiri termasuk orang yang tertutup, tidak bisa dengan mudah menceritakan apa yang aku alami pada orang lain termasuk orang tua, teman kerja atau saudara. Paling sering, aku menghilangkan rasa duka dengan menangis sendiri di kamar, membaca qur’an atau jika bisa aku pergi jalan-jalan dan membeli apa yang aku inginkan. Pada akhirnya, memang rasa duka itu hilang sejalan dengan waktu, sejalan dengan keikhlasan kita menerima kenyataan dan kembali menyadari bahwa kita adalah zero.
Selain itu, kita juga hrs yakin bahwa segala hal yang terjadi, dlm hal ini kedukaan–pasti ada hikmahnya.
Dan akhirnya, sikapilah kedukaan itu dgn sikap yg benar, sehingga diri semakin dewasa dan hidup pun semakin bermakna.
duka tak selamanya adalah kesedihan yang harus diingat, namun duka akan membuat kita semakin tegar manakala kita bisa belajar banyak darinya
terima kasih sudah mengingatkan dan memberikan cara mengatasi duka
[...] For me don`t said only “what if” but must go on. Cause ordinary life just need to trough away not to thinking so much. if you have pain and want to pass it just see these post, we are zero [...]
jadi tatkala berdoa intinya bukan “semoga terhindar dari cobaan dan duka” kenapa ? karena itu tidaklah mungkin, yang benar (menurut aku) “ya tuhan,.. beilah petujuk dan kekuatan untuk mengatasi segala cobaan dan duka”…
@ Acha : Iya sepakat mas.. thanks ya..
@ Really Life : ya..membuat kita semakin tegar selama bisa mengambil hal positif darinya.. makasi dah berkunjung
@ Firman : bener banget..itu yang bener untuk diminta dariNya..
bagus bahasannya,tukeran link yuk!
bagus postingannya. bagaimanapun, mengatasi duka bukan hal yang mudah, dan kuncinya sebenarnya terletak pada diri kita sendiri.
@ duadua : iya..thanks.. linknya dah saya tempel tu !
@ ani : tul..kuncinya ada pada diri kita sendiri…!
[...] Mengatasi Duka [...]