Memaknai Ideologi Jender

Konon kata “wanita” naik daun akibat proses kramaisasi bahasa Indonesia sejak tahun 1940an, antara lain karena kata ‘perempuan’ berbau ‘ibu rumah tangga’.  Maka banyak organisasi kaum hawa memakai kata “wanita”.  Tetapi akhir-akhir ini orang mempromosikan kata “perempuan” lagi karena ‘wanita’ berhubungan dengan kata ‘betina’ (dari bahsa sansekerta :vatina) yang berarti ‘yang didinginkan’.

Apakah bahasa mempengaruhi cara orang memandang jenis lain ataukah cara memandanglah yang membentuk cara berbahasa?sukar ditentukan.  Dalam hubungan ini, menarik juga, bentuk pasif beberapa kata bila berkonotasi erotis dikususkan kepada wanita, sedangkan bentuk aktif lebih-lebih dikhususkan kepada pria.  Seberapa jauh terapan pola ‘atas-bawah’ pada hubungan pria dan wanita merupakan rekayasa cultural atau jawaban atas kenyataan kodrati, sulit dipastikan.  Tetapi hubungan tersebut secara langsung tak langsung pun berpengaruh pada tindakan ketidakadilan terhadap perempuan.  Kesadaran akan perlakuan tidak adil ini melahirkan gerakan penyetaraan hak dan perlakuan yang adil yang lazim disebut jender.
“ide positif dari gerakan jender adalah ajakan menerima perbedaan sebagai kekayaan untuk saling melengkapi”
Peserikatan bangsa-bangsa mendefinisikan gender sebagai system peran dan hubungan antara pria dan wanita, yang tidak ditentukan data biologis, melainkan lingkungan social, politis dan ekonomis.  Jenis kelamin hanya kategori biologis.

Kita mengenal cara melihat perbedaan perempuan dan laki-laki, yakni berdasarkan fungsi biologis dan seksual.  Bebicara tentang fungsi biologis seksual, jelas perempuan tidak sama dengan laki-laki dan itu sudah ditentukan sang pencipta sejak mula.  Perempuan mempunyai vagina, sel telur, payudara yang kesemuanya menjadi keistimewaan mereka.  Sebaliknya laki-laki memiliki testis, penis dan sperma yang kesemuanya tidak dimilki perempuan.  Itu berarti tanpa campur tangan laki-laki, perempuan tak mungkin mengandung.  Dalam hal ini, perbedaan fungsi biologis seksual tak bisa dipungkiri sebagai pemberian abadi.  Disini perbedaan bukanlah suatu factor perendahan yang satu terhadap yang lain, melainkan justru ketergantungan untuk saling melengkapi  satu sama lain.  Keduanya saling membutuhkan secara equivalen.
Akan tetapi, hendaknya tidak dilupakan bahwa manusia itu adalah juga makhluk individual dan social.  Seseorang dibentuk tidak hanya oleh setting keseluruhan pemikiran tata tingkah laku kolektif secara social.  Ia juga membentuk dirinya sendiri, memilih, menentukan pemikiran dan tata tingkah lakunya.  Hal ini hendak mengatakan bahwa bila ada perlakuan tidak adil terhadap perempuan di masyarakat, belum tentu seluruhnya karena kesalahan seluruh tata kebudayaan, melainkan karena boleh jadi orang per orang yang dari dirinya memang memiliki tingkah laku yang menjurus pada kekerasan.
Disini, kembali kita menemukan paradoksalitas manusia berbudaya itu.  Seorang dibentuk oleh budaya dan serentak dengan itu membentuk dan membangun budaya itu sendiri.  Ide positif dari gerakan jender adalah ajakan untuk menerima perbedaan sebagai kekayaan untuk saling melengkapi.  Maka dalam konteks inilah kita dapat memaknai  ideology jender sebagai bentuk perjuangan bersama untuk semakin menghargai keluhuran martabat manusia.  (Elias Situmorang, Kompas 4 juli 2008).

banner ad


Leave a Reply