Pada kenyataannya, seekor semut tak mungkin menang jika harus beradu kecepatan dengan lalat. Namun, pancasilanya semut menjadikan ia sebagai salah satu serangga yang tak mudah dikalahkan begitu saja oleh hewan lainnya. Itu pula sebabnya jika makhluk hidup lainnya seperti manusia ‘suit’ maka jempol sebagai lambang gajah dinyatakan kalah oleh kelingking, sebagai lambang semut.
Ketika perihutan datang dan lomba akan dimulai, semut sama sekali tak memperlihatkan wajah cemas atau sedih. Dengan tegapnya, ia mendekati garis start bersama lalat untuk berlomba mencapai buah nangka yang berjarak sekitar 30 meter di hadapannya. Sesaat sebelum peri hutan meniup peluit, si lalat berbisik mendekati semut..
“ lo ga mungkin menang Mut… lo hanya akan mempermalukan diri lo sendiri… sudahlah.. mundur saja…”….
Kata-kata si lalat begitu nyaring terdengar di telinga semut. Namun bukan semut namanya jika ia tidak bisa tetap tenang menghadapi keangkuhan lalat.. “tidak ada kata kalah sebelum bertanding” … gumam nya dalam hati. Ia kemudian hanya menjawab keangkuhan lalat dengan senyum.
“Prittttt…… “ perihutan meniup peluit tanda lomba itu dimulai. Semut lalu berjalan meninggalkan garis start dengan sangat tenang. Beberapa kawannya, sebangsa semut merah dan kararangge yang ada di hutan itu turut menyaksikan jalannya lomba dengan wajah pasrah. Namun demikian, semut berjalan dengan sangat tenang, baginya kemenangan bukanlah tujuan akhir.. kerja keras dan keyakinanlah yang memberikan kekuatan padanya untuk tetap mengikuti lomba ini. Sementara itu, sang lalat masih tetap berdiri di belakang garis start. Ia masih di sana dan tidak beranjak sedikitpun.
“ hai semut… biarlah kau duluan berjalan ke sana… aku hanya perlu waktu 2 detik saja untuk sampai ke garis finish…” ia berteriak sambil tertawa terbahak-bahak.
Jika saja kecepatan terbang lalat adalah 50 km/jam maka untuk sampai ke garis finish yang berjarak 30m, ia hanya membutuhkan waktu 0.036 menit atau 2.16 detik saja. Sementara si semut dengan kecepatan berjalan 0.5 km per jam maka ia butuh waktu 3.6 menit atau 216 detik untuk mencapai buah nangka itu.
Siput, semut merah, keong, perihutan serta ilalang yang pagi itu turut menyaksikan jalannya lomba hanya berharap-harap cemas..
“di hitung dari sudut manapun, semut tak mungkin menang ya…” bisik mereka.
Tapi seekor angsa putih yang datang belakangan menimpali… ” ingat kawan, kita harus percaya bahwa keajaiban itu ada. Cobalah kalian baca buku MT : Belajar Hidup dari si Miskin. Aku mendapatkan buku itu dari sahabatku GerhanaCoklat tempo hari… ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil di sana. Bahwa hanya orang-orang yang optimis dan bekerja keraslah yang akan menjadi pemenang hidup ini… atau kalian baca buku “Moga Bunda Disayang Allah” .. ada keajaiban hidup di sana.. tapi kalian harus tahu, bahwa keajaiban itu datang jika kita telah berusaha seoptimal mungkin, dan datangnya justru di saat kita telah pasrah dan menyerahkan semua urusan kita padaNya…”
Penonton yang mendengarkan ocehan si angsa hanya manggut-manggut… hingga peri hutan mengomentari …
” hmm… buku-buku itu pasti hadiah dari sahabat2 mu ya Sa…? “ …
“ kok tahu si Ri….?” Si angsa hanya cengengesan kemudian berkata.. “ ya..buku-buku itu hadiah dan mereka berharga sekali buatku… nekjika kau sedang tidak sibuk, sempatkanlah untuk membacanya “.
Sementara itu, ketika hanya tinggal beberapa meter saja si semut mencapai garis finish, lalat dengan gesitnya terbang meninggalkan garis start….
Wuusshhh….!!! Suara dengung dari kepak sayapnya terdengar jelas hingga pucuk-pucuk ilalang … mereka ikut bergetar.. ….
Lalu ketika ia melintasi si semut yang masih berjalan dengan senyum dan gagahnya, ia memalingkan kepalanya sambil berkata ‘ hahaha… Mut.. lo capek ya… udah gue bilang.. gue pasti menang.. hahahha… ’ …..
lalu dalam sekejap saja.. ….
happ…!! lalat hinggap tanpa melihat lokasi pendaratan, dan ia mendarat tepat pada pangkal buah nangka yang penuh getah….
“oww.. kakiku… semua kakiku terkena getah… arhh..aku tak bisa bergerak…. !! “ …
Melihat kejadian itu, semua penonton hanya terpana… mereka lalu beralih memandangi si semut yang tetap tersenyum sambil berjalan menuju daging buah nangka..
Dengan penuh percaya diri, semut akhirnya sampai garis finish… buah nangka itu. Dicarinya jalan dengan hati-hati agar langkahnya tak terjerembab masuk menembus getah, hingga sampailah di antara daging buang nangka yang harum berwarna kuning itu. Ia kemudian mengajak semua penonton yang hadir untuk bersama-sama menikmati buah nangka. Dan tentu, tanpa dikomandoi, segerombolan semut lainnya tiba-tiba datang menikmati buah itu.
Sementara si lalat, karena bukan termasuk satwa berleher panjang, tentu saja mulutnya tak mampu mencapai daging buah nangka yang hanya berjarak beberapa centimeter saja di depan tubuhnya.
Walaupun sampai terlebih dahulu, ia tak dapat menikmati daging buah nangka yang lezat karena keangkuhannya.
the end … ![]()
*********************************
Kisah ini, adalah lanjutan dari kisah lalat vs semut, di sini. Dan ini, adalah buku dongeng sebagai cinderamata dari acara DMKD tersebut. ( …. dan perihutan pun kembali bergumam.. ‘lagi-lagi pamer hadiah..! ‘
)
wuuiih… 50 komen ngga ada satu pun yang terbalas.. hehehe..
kok kisah lalat dan semutnya mirip2 dg Siput dan Kancil ya???
balasan tuk yg suka sobong tu ….. hehee.ee
makanya lalat jangan suka meremehkan yang kecil,semut juga bisa lebih cepat
sombong seeh lalatnya…
teh siapa ituh peri hutan?bukan akukan
geer ajah wiendnya
DMKD aku melewatkan ya
hwaaaa..buku dongengnya banyak bangeed,dede onith pasti suka
**tuch kan teh masih bisa ngikutin critanya,meski telat