Empat tahun belakangan ini aku lebih sering melakukan perjalanan dengan transportasi umum dibanding dulu. Perjalanan, apalagi dengan kereta api, memberikan sebuah kenikmatan tersendiri bagiku. Bila saat dalam perjalanan kereta, aku kebetulan mendapatkan kursi di dekat jendela, maka rumah-rumah, aktifitas manusia, antrian kendaraan di pintu perlintasan kereta, gubuk-gubuk, sungai, sawah, lapangan rumput dengan kerbau atau sapi di atasnya atau itik-itik di atas sawah tak berpadi , menjadi pemandangan natural yang sangat indah menyegarkan mata. Kadang sejauh mata memandang hanyalah ada sawah yang menghijau atau menguning, kadang pula ada kendaraan yang seperti berkejaran dengan kereta yang membawaku.
Pemandangan ini mungkin juga bisa dinikmati ketika berada di dalam bis… tapi tetap saja, kereta api menurutku lebih nyaman terutama karena 4 hal. Pertama, jalan yang dilalui kereta tentulah tidak berbelok-belok hingga tak menyebabkan kepala ini pusing. Kedua, tidak ada bau bis dan bensin yang sering membuat perut ini mual. Ketiga, walau menu kereta api seperti nasi goreng, nasi rames, beefsteak, pisang goreng, kentang goreng, berbagai minuman dan es tak terlalu enak di lidah, tapi setidaknya aku dapat mengganjal perut ini jika lapar, kapan saja. Keempat, karena tidak ada rasa mual dan pusing itu, maka di atas kereta api, aku bisa melakukan aktifitas baca atau malah membuka lappie karena ada colokan listrik di sana.
(Karena aku takut ketinggian, maka perjalanan dengan pesawat menjadi sesuatu yang paling sangat membosankan… aku pernah ( hanya ) sekali mencobanya…
)
Seperti perjalanan kereta yang kulakukan beberapa minggu lalu, aku menikmatinya dengan sangat nikmat. Di atas kereta pula, separuh buku Kuncup Berseri selesai aku baca. Buku Kuncup Berseri karya NH Dini yang aku terima dari guskar.com Bulan Desember lalu memang baru aku selesaikan kemarin itu. Pekerjaan di BSD ( dan aktifitas ngeblog ) selama 4 bulan ini cukup menghabiskan waktuku. Jika hobiku adalah membaca, mungkin seharusnya aku tak mengabaikan beberapa buku yang kini menumpuk di atas meja kerjaku, di sebelah lappiku. Tapi waktu dan otakku terbatas, memang terbatas. Jikapun menyisihkan waktu untuk santai, maka lebih sering diisi dengan mendengarkan music atau nonton opera van java dan acara-acara lucu lainnya…..
.
*****************************************
Kuncup Berseri adalah cerita kenangan sang penulis saat masa remajanya, tepatnya masa SMA di SMA Sastra 3A3 Semarang. Bakatnya sebagai seorang seniman ternyata memang sudah tampak sejak ia remaja bahkan sejak SMP. Ia telah mulai menulis sejak kelas 2 SMP. Tulisannya waktu itu sering dimuat di majalah kisah. Tahun 1956, kumpulan cerita pendeknya ‘Dua Dunia’ diterbitkan ketika beliau masih SMA.
Di masa SMA, kepiawaiannya dalam berkesenian terus tumbuh. Bersama kakak laki-lakinya, Teguh Asmar dan beberapa kawan, beliau membentuk semacam sanggar atau kelompok sandiwara yang diberi nama ….Kuncup Seri.. ( rupanya judul novel ini diambil dari nama grup sandiwara itu). Beliau bersama grup sandiwara yang dipimpinnya rutin mengisi acara sandiwara di sebuah radio, tentu juga mengikuti beberapa perlombaan atau pentas yang diadakan waktu itu. Namanya sebagai seniman semakin cukup dikenal , apalagi ketika ia di beberapa kesempatan sempat bertemu dan berkenalan dengan beberapa seniman Indonesia lainnya.
Di lain bagian, NH Dini juga menceritakan bagaimana suasana kehidupan khas remaja pada zamannya, bagaimana beliau mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis dan cerita berkaitan dengan itu.
Menurutku, beliau adalah anak perempuan yang ada di ‘luar kotak’. Apalagi pada zaman itu, dunianya, dunia menulis, lebih didominasi kaum lelaki. Ia juga perempuan yang outspoken, jujur bersikap dan berpendapat sesuai dengan apa yang ada di pikirannya walau mungkin itu berbeda dengan orang lain. Pernah suatu kali beliau mengembalikan hadiah yang diterima dari sebuah lomba sandiwara ke RRI. Di mata beliau, hadiah berupa patung kayu itu dianggapnya sebagai patung yang dibuat tanpa ‘cita rasa seni’ sehingga tidak layak pula diberikan sebagai penghargaan atas sebuah karya seni yang telah diciptakannya.
Ia punya sikap.
NH Dini juga mengungkapkan bagaimana sikapnya terhadap sesuatu hal yang tidak mengena di hatinya, baik itu mengenai kawan-kawan atau saudaranya. Ia akan memilih diam dan tak ingin lagi ‘kenal’ dengan seseorang yang dianggapnya tidak pas dihatinya apalagi pernah menyakitinya. Jika suatu kali ia merasa tersinggung atas perlakuan seseorang maka ia akan lebih memilih diam atau bahkan menganggap orang itu tak ada lagi di dunia ini.
****************************************
Tulisan ini bukan review atas novel/buku karena memang aku bukan ahli penulis review (kecuali masa SMA itu
). Jika aku membaca buku maka aku akan berusaha mencari ‘point’ penting dari apa yang aku baca…… (meskipun bisa jadi point itu beberapa saat kemudian menguap dari pikirannku). Dan dari Kuncup Berseri, aku menemukan hal bahwa aku harus lebih focus atas sesuatu yang harus kukerjakan atau aku senangi. Rasanya, NH Dini tidak akan dikenal sebagai penulis besar yang dimiliki negeri ini jika ia tidak focus mengembangkan dan terus membuat karya akan kecintaannya pada seni, terutama seni sastra sejak ia SMP hingga kini.
Perjalanan darat saya lebih memilih bis karena saya orangnya mudah bosan dengan pemandangan kereta yang isinya sawah
, boleh pinjem dong
Tapi lain kalau perjalanan dengan kereta ditemani oleh bukunya NH Dini
punteeeen…
numpang lewat aja deh..:)
assalamu’alaykum sob…
kunjungan rutin neh…..heheheh
kebetulan gw emang suka naek kreta jg neh, secara gw gak suka ama polusi rokok or asap knalpot kndaraan umum kalo naek bus, trus kreta juga cepet, nyaman, pemandangan indah, lewat sawah2, en lbh kondusif buat ngebaca, kl pesawat gw juga suka seh…., pemandangannya jg indah dari atas. nice post sist, emang lbh asyik kita bekerja di bidang yang kita mencintainya, coz dengan kita bekerja di bidang yang kita cintai kita kan bekerja dengan bahgia en happy dan kmudian -sbagaimana sbuah ungkpan, f you wanna be rich and healthy, be happy…!- kita kan kaya dan sehat…….keep on movin cuy……
Saya belum pernah naik kereta api hik..