Kapan Kita Pantas Berkata ‘Pasrah’ ?

IMAGE_00287Hari ini saya sedang bahagia karena semalam bisa tidur nyenyak dan lama…:) .  Jam 11 saya sudah tidur hingga waktu sahur dan sehabis shalat subuh, saya tidur lagi hingga jam 6.30.. ( kadang ada enaknya jadi pengangguran kan…? ).  Karena sedang berenergi, siang tadi saya mengajak anak-anak ke Gramedia, untung saja toko buku seperti Gramedia atau Gunung Agung adalah tempat favorit anak-anak setelah toko mainan dan kolam renang tentunya.. (loh…??).

Setelah membaca referensi buku dari blognya Kang Gus, saya membeli buku ‘Ibunda Hajar’ dan beberapa buku cerita untuk anak-anak.  Saya belum selesai membaca buku ini, namun dari review dan paparan beberapa tokoh, salah satunya menyatakan bahwa ‘perjuangan Siti Hajar pantas menjadi inspirasi bagi perempuan dan laki-laki muslim.  Siti Hajar telah memanifestasikan semangat perjuangan, ketegaran, dan keteguhan hati perempuan dalam menghadapi cobaan Tuhan’ (Saparinah Sadli).

Sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan dalam postingan ini adalah tentang ‘pasrah’.  Jika seorang Siti Hajar tidak pernah putus asa untuk terus berharap akan datangnya pertolongan Allah maka mengapa banyak manusia ( mungkin termasuk saya) seringkali berkata ‘pasrah’.  Dalam hal ini ‘pasrah’ diartikan dalam ungkapan seperti..’ terserah aja deh…’ atau ‘gimana nanti aja deh..’ atau ‘ya..gimana.. udah nasib..’ dan ungkapan lain yang nadanya seolah ingin menyampaikan bahwa kehidupan ini telah usai.

………………………………………………

( karena saya belum selesai membaca bukunya, juga karena kemampuan analisis saya yang terbatas, maka ada hubungannya atau tidak antara ‘pesan’ yang disampaikan dalam buku itu dengan ‘pasrah’ pada tema postingan ini..saya serahkan pada Anda.. jika tidak ada hubungannya silahkan kritik atau hujat saya… )

…………………………………………………….

Saya melihat sebuah contoh kasus pada salah satu tetangga di kompleks rumah.  Dia seorang perempuan, usianya sekitar 4 tahun lebih tua dari saya, dengan 3 anak.  Entah ada masalah apa, yang jelas suami dari perempuan ini yang bekerja di lain kota sudah beberapa bulan jarang mengirim kabar bahkan memberi nafkah.  Selanjutnya perempuan ini sepertinya hanya menyerah pada keadaan, untuk hidup sehari-hari dia berhutang dari tetangga satu ke tetangga lainnya, ia juga berhutang ke warung-warung yang ada di sekitar komplek untuk kebutuhan sembako.  Pada suatu kesempatan saya pernah bertanya keadaannya dan kata yang muncul darinya adalah..’ yaa..pasrah aja..’.  Duh.. mengapa dengan mudah berkata pasrah ya..?

Lalu sebenarnya..apa si arti ‘pasrah’ itu sendiri ? dan kapan kita ‘pantas’ berkata ..’pasrah’ ? apakah ‘pasrah’='berserah diri’ ?

Terakhir kali saya berkata ‘pasrah’ pada musibah gempa yang terjadi di Jawa Selatan sekitar dua minggu lalu.  Saya, saat ini tinggal di kota yang menjadi pusat gempa kemarin.  Saat itu, sekitar jam 3 sore, saya sedang duduk di sofa.  Sementara, kedua anak saya ada di sebelah kanan saya dan sedang asik bermain game. Ketika tiba-tiba rumah berguncang… saya yang baru satu hari sebelumnya pulang dari rumah sakit setelah satu minggu dirawat, hanya bisa berbalik dan menutup kedua anak saya dengan tubuh saya.  Semakin lama, guncangan makin besar.. saya tidak bisa berlari apalagi sambil menggendong dua anak, perban bekas infuse masih menempel di tangan kiri saya.  Sementara, bekas jarum suntik yang setiap hari mengambil darah  masih tampak lebam di tangan kanan saya.  Saat itu saya hanya bisa berteriak takbir, suara takut dari anak-anak, suara gelas dan piring yang pecah semakin menambah ngeri keadaan…. Perasaan yang saya rasakan telah melewati batas takut.  Dan saya pasrah….

banner ad


13 Responses to “Kapan Kita Pantas Berkata ‘Pasrah’ ?”

  1. firman says:

    Sukur deh ikut senang dengernya.. dah bisa tidur nyenyak,.. :) hmmm… Sekedar berpendapat juga karena belom pernah baca bukunya. Hanya saja akan sangat sulit (sebagai manusia) untuk menentukan saat kapan kita harus “pasrah” dengan keadaan. yang say kurang faham disini “Pasrah” sebagai ganti kata “nerimo” (red:jawa) atau “pasrah” berarti “berserah diri” ?, ada perbedaan konotasi menurt saya. Saya coba memilih ” kata berserah diri.
    ringkasnya (bagi yang percaya) allah sangat merahasiakan takdir yang telah digariskannya dari pandangan mata manusia. Ada sebagian manusia yang menjalani hidup ini dengan bekal percaya bahawa semua yang dia dapat adalah yang terbaik yang diberikan Allah kepadanya. Hingga tidak perlu “ngoyo”.. namun ada yang berprinsip semua yang diberikan Allah ada sedikit campur tangan manusia. Artinya semua yang dicita-citakan manusia harus diperjuangkan sekuat tenaga. Saat kita (manusia) melakukan ikhtiar musti juga dibearengi proses berserah diri.
    Intinya buat saya pribadi setiap ihtiar saya sebagai manusia selalu dibarengi proses berserah diri. bukan setelah saya berusaha kemudian saya berserah diri.

  2. firman says:

    eh pertamax ni ?…

  3. pasrah adalah puncak dari usaha. tanpa usaha “pasrah” hanya akan menjadi keluh kesah.

    saya ikut prihatin atas musibah yang terjadi.

  4. Aisha says:

    Alhamdulillah selamat sis.turut bersedih atas kejadian gempa kemarin.Semoga di sana selamat semua amin.

  5. mr psycho says:

    pasrah atas kehendak Sang Pencipta sis,manusia harus berusaha.. btw kalo gempa,yg penting tidak panik

  6. guskar says:

    semestinya, pasrah ditempatkan setelah tawakal. berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan terlebih dulu. kemudian benar2 berserah diri kepada Allah.
    kenyataannya, saya pun sering langsung pasrah saja… menunggu apapun yg akan terjadi…

  7. alamendah says:

    Menurut saya (copas kata2 ustadz saya meski banyak yang lupa); Pasrah adalah ketika kita telah melakukan ikhtiar (usaha) semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kita kemudian menyerahkan segala hasil dari usaha kita tadi kepada Allah.
    Kalau salah mohon dikoreksi.

  8. dinoyudha says:

    Salam kenal ceu..
    Sebelumnya saya mau menanggapi komen Guskar, menurut saya pasrah itu bagian dari tawakkal, karena tawakkal = ikhtiar + doa + pasrah. CMIIW

    Subhaanallah, apa yang ceuSovi alami saat gempa itu sangat luar biasa (adakah postingannya di sini?). Luar biasa dari sisi naluri seorang ibu dan juga menunjukkan kelemahan seorang makhluk..

  9. ceuceusovi says:

    @ firman : tumben ya jd pertamax..hehe.. Iya..artinya usaha ga pernah putus ya…

    @ bongjun : na itu..keluh kesah yang klo bisa disingkirkan ya.. :)

    @ Aisha : iya..makasi Sis.. seumur hidup baru ngerasain..alhamdulillah selamat semua..

    @ mr psycho : ada yang bilang..takdir itu kita sendiri yang buat..? ttg gempa, ya itu..bisanya cuma pasrah aja..

    @ guskar : hmm.. sampai batas kemampuan ya.. benar Kang..mungkin semua manusia juga gitu ya,apalagi saya.. ada kalanya pasrah aja..walau bisa jadi usaha kita blm maximal..

    @ alamendah : iya..hanya saja apakah usaha kita sdh maximal atau belom..agak sulit terukur ya.. iya ga ?

    @ dinoyudha : hmm..artinya pada setiap kita berusaha dan berdoa..pada saat itu pula kita berserah diri ya ..?
    makasi ya dah mampir.. saya tidak membuat postingan ttg gempa krn rasany ingin melupakan.. alhamdulillah semua selamat, rmh jg gpp.. naluri seorang ibu mungkin semua sama ya..saat itu saya hanya berharap lindungan dari Allah..

  10. nakjaDimande says:

    hwaaa ceuceu dah duluan baca buku ini **tipikal pembaca reaksi cepat niyh.. hehhe klo bundo termasuk reaksi lamban krn di Bukittinggi susah cari buku dengan judul lengkap :D

    bundo ingat minggu lalu pak mario teguh bilang, keajaiban terjadi pada saat kita sudah siap untuk terjun bebas, saat ketakutan sudah hilang.. saat itu biasanya tangan ALLAH akan bekerja..

    **menjelang berbuka puasa yg masih 15 menit lagi di Bukittinggi, aku pengen bilang: Luv u ceu..

  11. zenteguh says:

    saya ikut guskar aja Ceu bahwa pasrah memang harus ditempatkan pada tawakal. Pasrah bukan berarti menyerah begitu saja pada keadaan, tapi ada perjuangan di dalamnya

  12. ceuceusovi says:

    @ nakjaDimande : bukan reaksi cepat.. pas kebetulan anak2 juga pengen buku dan ada uang buat belinya Bundo.. hehe..

    hmm..(udah beberapa episode Mario Teguh saya lewatkan..)kata-kata itu sgt menyejukkan..! jadi ingat pesan teman saya bbrp tahun lalu ( saat ayah anak2 tiada)..”tenang Ceu..mulai saat ini..Allah yang akan langsung mengurus anak-anakmu..”

    @ zenteguh : ya.. tawakal dan berjuang ya Mas.. thx

  13. deviw says:

    syukurlah kalo ceusovi, selamat, dari musibah itu.

    mengingatkan Saya gempa jogja 3 tahun lalu. dan Saya bisa merasakan pasrahnya MasDa saat dia cerita bagaimana dia diguncang gempa di dalam rumah karena tidak sempat menyelamatkan diri. secara dia sendiri yang masih ada di dalam. padahal MasDa itu sosok yang kuat dan orang yang tak jera berusaha. makanya dia gak mau lagi mengingat peristiwa itu, matanya pasti menerawang jauh dan berkaca kaca.

Leave a Reply