Hai… apa kabar sobat2ku tersayang… lama sekali aku tak mengapdet blog kesayanganku ini, sedikit repot karena harus mengumpulkan materi untuk mengapdet blogku yang lain… tentu saja karena repot urusan rumah dan anak-anak juga..
maaf kalau belum sempat berkunjung balik ke sobat-sobat yang mengunjungi ourlovenotes…
Well, begitu bisa apdet, aku mau ngedumel.. ( sudah bisa terlihat dari judul postingan ini..
)
Beberapa hari lalu aku ke Bandung untuk sebuah acara keluarga. Kami melintas di Jalan Supratman, di sana aku melihat smp tempat aku bersekolah dulu. Tiba-tiba aku teringat akan hal yang tidak mengenakan saat smp itu, tepatnya terhadap guru agamaku, pak M namanya. Ceritanya begini…
Aku kelas 1, di kelas 1A waktu itu. Suatu hari saat pelajaran agama, pak M memanggil murid satu per satu maju menghadapnya di meja guru, sementara yang lain mencatat pelajaran yang ada di papan tulis. Tiba giliranku dipanggil, ternyata setiap murid ditanyai tentang kegiatan agama di rumah masing-masing.
Pak M : iceu..kamu suka mengaji di rumah ?
Aku : suka pak…
Pak M : Sudah sampai mana bacaan Qur’an kamu…?
Jujur waktu itu aku benar-benar lupa sudah sampai mana surat yang aku baca. Aku memang kurang memperhatikannya, apalagi kegiatan mengaji, aku lakukan atas inisiatif aku sendiri di rumah. Mamah mungkin terlalu repot mengajari aku dan saudara2ku mengaji. Akupun baru bisa mengaji pada saat aku sudah di kelas 4 SD. Aku ingat betul, waktu itu aku ingin sekali bisa membaca Qur’an tapi tidak tahu belajar di mana. Di lingkungan rumah kami, aku tidak pernah melihat ada kegiatan anak-anak seusia aku belajar ngaji, apalagi mesjid pun jauh sekali jaraknya dari rumah. Namun, IA Maha Besar, seperti gayung bersambut, tiba-tiba saja ada salah satu orang tua teman mainku di rumah meminta aku untuk membujuk dan menemani anaknya belajar mengaji di sebuah tempat belajar. Bukan mesjid atau madrasah atau tempat yang sekarang disebut TPQ, tempat belajar mengaji itu diadakan oleh sebuah keluarga yang menjadikan paviliun rumahnya untuk anak-anak yang ingin belajar ngaji. Rumah itupun letaknya di luar RW/lingkungan rumah kami. Guru mengajinya kami panggil dengan ‘Mamah Maya’.
Atas tawaran orang tua temanku itu, tentu langsung aku iyakan. Ia bahkan yang membayar iurannya setiap bulan. Maka setiap sore, aku menyambangi teman mainku itu, namanya Ayu Rebecca, ia berdarah Bali, untuk mengaji di rumah Mamah Maya, sesuai permintaan ibunya. Dan sering kali justru Ayu malah ngumpet saat aku mengajaknya mengaji.
Mungkin karena keinginanku untuk bisa mengaji sangat kuat, maka aku belajar alif- ba-ta-tsa hingga bisa membaca Al-Quran hanya dalam waktu tidak lebih dari 1 minggu. Setelah bisa, aku makin semangat saja datang ke rumah Mamah Maya. Namun, semangatku tidak diikuti oleh Ayu, susah sekali dia aku ajak, aku malah sering berangkat sendirian jadinya. Akhirnya aku dan Ayu keluar dari sanggar belajar itu, aku melanjutkan bacaan Qur’an ku di rumah. Itupun hanya sesekali saja.
Mungkin itu sebabnya, saat Pak M bertanya sudah sampai mana bacaan Qur’an nya, aku tidak hafal surat apa yang aku baca.
Aku : a ku mencoba berpikir keras, mengingat-ingat surat apa… hingga keluar dari mulutku “surat al-muslimin… ” ( padahal maksudku waktu itu adalah al-mu’minun)
Pak M : “ga ada itu muslimin.. kamu bohong ya.. kamu ga pernah ngaji ya… ” Pak M mengatakan itu dengan bibir senyum sinis…. ( beneran lo.. siniss banget waktu itu .. )
Setelah itu, pak M meminta aku kembali ke tempat duduk. Sungguh, kata-kata guru agama itu membuat aku sakit hati… aku dituduh berbohong ! huh.. benar-benar menyebalkan. Ku rasa ia bertindak kepada muridnya dengansangat tidak elegan, tidak pantas, tidak etis, tidak becus, tidak pas. Apa ia tidak belajar psikologi anak ya ketika sekolah guru dulu ?
Hari-hari setelah kejadian itu lebih menyebalkan lagi. Ia tidak pernah menghargai aku sebagai ketua kelas !. Ya, aku ketua kelas 1A waktu itu. Dan seperti biasanya, ketua kelas sering dimintai guru misalnya untuk menyampaikan pesan tentang tugas apa yang harus dikerjakan jika bapak/ibu guru terlambat datang, atau disuruh untuk mengumpulkan lembar kertas ulangan atau lainnya. Dan khusus pak M ini, ia justru sering menugaskan itu kepada temanku, yang dibilang anak-anak lain sebagai anak emasnya karena ia cukup pandai mengaji. huh… !! aku memang masih kecil, apa pula artinya jabatan ketua kelas… tapi heiii.. justru karena masih kecil itu, rasanya jabatan ketua kelas adalah sebuah kebanggaan.. disuruh-suruh bapak/ibu guru pun malah jadi sebuah kebanggan rasanya. Dan karena masih kecil, orang-orang dewasa itu harusnya paham bagaimana cara menghargai anak kecil. … !!!!!
Makin hari, aku makin tidak respek saja padanya. Setiap melihat wajahnya, rasanya dada ini sesak.. pengen marah !! but untung saja, semua itu tidak membuat aku membenci pelajarannya, .. pelajaran agama loh sodara-sodara… ( Om nH mode on. ..
).
Kejadian ketiga yang membuat aku sebal padanya adalah ketika tiba Bulan Suci Ramadhan. Waktu itu pak M akan mengadakan acara pengajian di sekolah, yang dilaksanakan setelah waktu ashar. Ia bilang, kegiatan itu akan diisi dengan ceramah agama, lalu buka puasa bersama. Tapi, khusus buka puasa ini, ia bilang tidak wajib. Anak-anak yang ingin berbuka puasa bersama, membawa bekal dari rumah, sementara itu anak-anak yang memilih berbuka di rumah diperbolehkan pulang setelah ceramah agama selesai.
Saat itu aku memilih untuk buka puasa di rumah saja. Pertimbangannya, selain jarak rumah dan sekolah agak jauh, harus naik bis kota, ortuku juga bukan orang kaya yang bisa mengantar jemput aku dengan kendaraan atau punya uang banyak untuk ongkos naik bis kota. Selain itu, aku juga merasa tidak pede dengan bekal berbuka puasa yang harus aku bawa dari rumah nanti, so aku memilih berbuka di rumah saja.
Lalu saat tiba kegiatan itu.. ia melanggar janji sodara-sodara… ! Acara ceramah agama selesai kira-kira 30 menit sebelum adzan maghrib. Aku dan beberapa teman yang tidak membawa bekal bersiap-siap untuk pulang ke rumah masin-masing. Eh.. ternyata pak M melarang kami. Ia bilang…
‘sholat maghrib dulu semuanya disini, setelah itu anak-anak yang tidak membawa bekal baru boleh pulang ! … ‘ busyet dah…. Jadi kami harus gigit jari saat adzan nanti ? please dong.. bagi anak usia kelas 1 smp, jam buka puasa adalah jam yang ditunggu-tunggu.. tentu saja untuk menyerbu makanan dan minuman. Selain itu, akupun sudah kadung bilang ke apihku untuk tidak menjemput aku di sekolah karena akan berbuka puasa di rumah saja.
Karena perubahan kegiatan itu, kami yang tidak membawa bekal berkumpul di satu sudut aula, tentu saja untuk ngedumel. Melihat kami yang tampak ‘ribut’ pak M lalu bicara dengan nada suara cukup tinggi.. : ‘ya sudah.. yang tidak membawa bekal.. keluar saja dari aula.. boleh pulang sekarang…! “
Aula langsung terasa sepi waktu itu, teman2 yang semula berniat pulang pun agak ‘takut’ untuk keluar aula. Tapi tidak dengan aku.. toh ia yang melanggar janji kok… !! saat itu, aku langsung berdiri dan keluar aula sekolah kami, diikuti oleh 5-6 orang temanku di belakang…… aahh.. biar saja.. aku tidak salah kok.. dia mo lapor kemana juga.. aku ga takut karena ga salah rasanya…
***************************************
Kegiatan di Bulan Ramadhan itu adalah terakhir kalinya aku merasa sebal padanya. Tidak lama setelah itu, kami melewati masa ujian akhir kenaikan kelas ke kelas dua dan aku pindah ke kota lain. Hanya satu tahun saja aku di sekolah itu, namun kenangan ‘ buruk’ itu kadang masih aku ingat.
Tapi tentu saja ada banyak kenangan manisnya, salah satunya bernyayi di panggung bareng Melly Guslow sebagai bentuk tes /ujian kenaikan kelas untuk eskul seni music. Melly Guslow adalah kakak kelas satu angkatan aku waktu itu.. heheh
Anyway.. semua kejadian pasti ada hikmahnya.
Aku pernah menjadi seorang pengajar.. aku jadikan muridku sebagai partner belajar.. intinya adalah penghargaan…
Kini aku punya anak kecil yang sedang asyik-asyiknya bermain. Mereka dengan mudah menyerap apapun yang terjadi di lingkungan sekitar, baik ucapan atau tingkah laku orang lain. Dan seringkali ada banyak hal tak terduga yang mereka bawa ke rumah. Di sisi lain, aku agak ‘keras’ mendidik mereka… you know.. I have to be a daddy too… dan karena itu, bisa jadi ada hal-hal yang mereka tutupi dari aku karena takut. Karena pengalamanku saat SMP itu, aku sangat berhati-hati untuk mengatakan atau bahkan menyangka dalam hati bahwa mereka berbohong. Cause I know it would hurt their heart…..
(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Memberikan penghargaan kepada anak akan menumbuhkan keberanian dan pada anak
(maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
Lama banget saya nggak dlan ke sini…..
smg kesumat ceu hilang stlah menceritakan di postingan ini. ntar klo lewat dpn sekolahan itu lagi, kenangan indah lah yg akan diceritakan
Beliau sudah dimaafkan ya ceu..?
Pengalaman berharga memang, Agar hati-hati berbahasa dengan anak-anak. Mereka akan ingat segala ucapan tak bijak kita sampai mereka dewasa.
Selamat bermalam minggu, sayang
@ alamendah ; yang jelas bikin anak itu pede mas..
@ alamendah biru : saya juga udah lama ga maen ke tempat mas alam.. tambah biru saja sepertinya
@ guskar : heheh.. saya ga kesumat kok kang.. cuma mangkel saja.. ( loh… beda tipis ya..
) ..
@ Bundo : tentu sudah termaafkan Bun.. sesaat ketika nyanyi bareng Melly itu.. heheh..
betul Bun.. mungkin krn ia seorang guru, maka saya/kita berharap ‘lebih’ dari dia baik kata-kata atau sikapnya… banyak kasus ‘negatif’ yang terjadi pada anak dewasa karena trauma masa kecil…
Saya selama proses belajar terkadang suka bercanda sama siswa, dan saya sadar kadang ucapan kita suka bikin salah. Akhir pertemuan saya minta maaf dan mereka (semoga) maafin.
Tiga Hal Ceu Sopi …
#1. Saya agak menyayangkan perlakuan guru tersebut kepada murid-muridnya … menurut saya agak kurang pada tempatnya …
namun sudahlah … semoga kita bisa mengambil pelajaran dari sana
#2. aku sangat berhati-hati untuk mengatakan atau bahkan menyangka dalam hati bahwa mereka berbohong. Cause I know it would hurt their heart…..
Saya dua tiga kali membaca kalimat tersebut ceu … ini powerful sekali … kita orang tua biasa … adalah juga manusia … kadang suka lupa dengan hal ini … hal kecil yang bisa sangat menyakiti mereka … bahkan bisa jadi akan terbawa terus …
#3. Menyanyi dengan Melly Guslaw …
Waw … what an experience … siapa sangka kakak kelas itu menjadi pencipta lagu dan penyanyi terkenal sekarang ya Ceu …
Salam saya
Sehat-sehat ya Ceu
Saya juga punya pengalaman mengaji dengan guru mengaji yang cukup galak ( suka ketok jari2 tangan dengan bambu kalau tak hafal 1 surat dalam 2 hari ). Sebel juga sih…tapi kayaknya memacu saya juga untuk serius belajarnya….
Salam hangat & sukses selalu…
Met wiken…
Hhmmm saya ikutan jengkel bacanya. Selalu ada guru yang semena2 sama anak muridnya, merasa mereka bos besar & selalu benar. Seperti katamu Ceu, mereka tdk belajar psikologi anak,tp mau jadi guru. Saya jg punya pengalaman tidak enak dgn guru (SD) yang bikin saya tidak bisa lupa sampai sekarang. Memaafkan org yg semena2 memang tidak mudah, apalagi kalau sudah kejadian dibikin sakit hati.
Mudah2an ceusofi bisa bijaksana dlm mendidik anak-2nya ya..
Buat saya pribadi lebih suka dipukul dari pada dapat kata2 pedas… sakitnya ngga akan hilang…
klo kasusnya seperti guru itu…. ambil hikmahnya aja… nyatanya dia berhasil kan..
..
1. Berhasil bikin siswanya sadar bahwa menyakiti dengan perkataan itu ngga baik buat anak2.. buat orang dewasa juga kali ya..hehe
2. Berhasil juga membuat siswanya jadi ngga pelupa kan ?
@ -H- : kalau dalam suasana becanda, terasanya juga akan lain mas.. apalagi klo di akhir pertemuan ada kata maaf.. banyak kok siswa yang lebih mengidolakan guru yang galak/tegas dibandingkan dengan guru lemah lembut tapi ia menggunakan metode ‘berkata lembut nan sinis’ saat menegur siswanya…
@ Om NH : makasi Om… iya si.. kita manusia biasa, rasanya tak mungkin juga menjadi orang tua yang sempurna, karenanya saya masih terus belajar memperbaiki diri dari hal-hal yang pernah saya lewati….
betul.. tak sangka melly guslaw menjadi begitu terkenal sekarang… ( sayang dulu ga difoto.. heheh.. )
@ noorhasan : tidak masalah kok sebetulnya dengan cara galak atau keras, cara tersebut justru ga ada hubungannya sama ‘hati’ mas… klo sudah menyangka berbohong itu sudah penghinaan…dan yang sakit adalah hati.. heheh..
@ zee : iya zee.. itu kejadian sudah dua puluh tahun lebih.. tapi saya masih ingat.. mungkin karena menyangkut ‘hati’ dan ‘guru’..
. hmm.. bukan berarti belom saya maafkan si, cuma ya.. masih sebel aja.. ( loh.. heheh). amin, mudah2an kita bisa jadi orangtua yang baik ya…
@ firman : 1. betul si… klo dicubit, hitungan menit sakitnya mungkin sudah hilang ya… dan terbukti nyata klo udah urusan hati, hmm.. sussssaahhh ilangnya
2. dalam beberapa hal, siswa ini kadang tetep pelupa tu…
Jangan lupa ajari mereka membaca Al Qur’an mba, kalau bisa suruh mereka menghafal Al Qur’an. Agar saat mereka ditanya guru agama mereka tidak seperti mba he he he. Mereka kan masih dalam usia emas y?
Hmm, pengalaman baik atau buruk selalu ada hikmah ya mba Ceu:), apa kabar? semoga selalu sehat ya…Dan semoga “Beliau” sekarang sudah menyadari sikap beliau yg dulu kurang pada tempatnya itu…
alhamdulillah saya layk bersyukur, tradisi di kampungku sejak anak-anak sudah belajar al quran bersama-sama, dan saat ini anakku yang 3 tahun sudah mau belajar membaca Al qur’an di rumah juga di mushola
banyak kata2 orang dewasa yang saya dengar di masa kecil yang sampe sekarang masih saya ingat …
hmmm,, btw
hebat euy…
1 pekan sdh langsung bisa quran…
ckckckckck
trus gmn kabar pak M ???
Di sisi lain, aku agak ‘keras’ mendidik mereka… you know.. I have to be a daddy too…
kok jd daddy??
then, knp keras?? -balas dendam- kah?
itu guru nyebelin banget, meremehkan orang lain. dia sebagai guru agama sebaiknya memberikan contoh yang baik ternyata status guru agama hanya sebatas sebagai pekerjaannya saja
anak ibarat kaset kosong, beri sugesti positif terus agar sang anak terus semangat,,
dan sekarang smoga jadi hikmah bwt kita semua, berhati2 dlm berbicara…apalagi dekat anak2
“memberi penghargaan”…setuju skali
Menjadikan Murid sebagai Partner Belajar adlaah pilihan yang Bijak “Teh ceuceu” , karena dengan mengajar berarti kita juga belajar, bertambah juga ilmu kita pastinya…
salam Kenal yah Teh Ceuceu, haduh asa pabeulit, teteh sama Ceuceu kan sami nya ?
aneh tuh gurunya, tapi jangan heran mbak, saya malah lebih parah dulu, dan kenangan itu masih berbekas terhadap 1 guru yang saya anggap arogan bukan mampus, eh, bukan main. hehe, jadi aku memiliki sikap untuk tidak seperti dirinya kelak. hehe,
@ hanif : iya, itu juga salah satu hikmahnya..anak2 saya dari kecil sudah diajarin ngaji, apalagi sekarang tk islam banyak, ga kayak dulu…
@ rita : iya, kita ambil hikmahnya aja deh.. kabar saya baik rita.. dah lama saya ga main ke rumah rita ya.. heheh
@ narno : itulah mas… saya dulu di bandung, tahun 80an.. suasana lingkungan rumah agak jauh dari kesan religi.. alhamdulillah, klo anak2 saya sekrang sedari kecil sudah belajar ngaji.. ga kayak saya dulu lah..
@ abula : betul.. saya juga ga sempurna tapi minimal lebih hati2..
@ ahmed : iya, klo diingat saya juga heran, kok bisa saya dulu cepet bgt bisanya.. anak2 saya lulus tk paling baru iqro 4..
saya mmng aneh mas, jadi daddy juga… hehhe.. klo ‘keras’ bukan balas dendam, tp dalam mendidik disiplin aja.. saya sdh tidak tahu lagi kabar guru2 smp saya dulu…
@ orange float : iya.. jujur, saya ga pernah lo mengingat2 kejelekan orang, tp klo sama guru itu, kok ya mash ingat aja .. hehhe
@ yanrmhd : iya, sepakat tu… btw.. semua ada hikmah positifnya..
@ atmakusumah : iya, kan enak klo sama mahasiswa bisa kerja sama, walaupun ttp ilmu kita sebagai pengajar harus lbh dari mrk… klo pabeulit ckp dgn ceuceu aja, atau teteh aja..
@ hanifilham : iya, aneh juga ya.. sejak saya sekolah, sd-kuliah ya cm guru itu yg bagi saya perlakuannya ga pas..
Teh Ceuceu,
Sudahlah jangan diingat-ingat lagi, ntar tambah jengkel.
Dari satu sisi harus kita akui banyak guru-guru yang membuat kita selaku orang tua jengekel, tetapi disisi lain dengan tanggung jawab yang begitu berat, mereka harus dipusingkan dengan cadangan konsumsi yang ada dirumah.
Mungkin ada salah satu penyebab kenapa ada guru yang terkadang lepas kontrol, khusus kata-katanya.
semoga musnah kesalnya ya bund….
Saya juga pernah dituduh berbohong ketika saya sakit perut dan naik dari kolam renang. Saya mual dan muntah2 tapi pelatih saya (pangkatnya Serka) : ” Kamu memang pemalas “.
Coba ceu, orang benar2 sakit kok dibilang pemalas. Habis renang saya langsung masuk KSA lho selama 2 hari.
Kalu ingat si Serka itu rasanya mau tak jotos deh he he he he. Tapi sudah saya maafkan juga kok.
Ketika saya dilantik menjadi Perwira dia masih Serka juga.
Salam hangat dari Plesiran- media untuk mempromosikan wisata daerah anda secara gratis. Setiap artikel yang dimuat akan mendapatkan tali asih berupa sebuah buku yang menarik dan bermanfaat.
pengalaman unik yang bisa jadi refleksi untuk orang seperti saya
trims
Maaf untuk berpisah
wahh teteh dulu jadi ketua kelas di tempat ngaji
sama donk hehehe
pak gurunya mungkin tak bermaksud mempermalukan itu spontanitas aja
wah… namanya sakit hati semua orang pasti mengalaminya… saya juga pernah mengalami pengalaman serupa
sekarang sudah dimaafkan kan Ceu.
Memang kadang2 mereka gak bisa mengontrol emosinya, namun begitu sebagai pendidik, mestinya mereka tak berperilaku seperti itu, yg membuat sia nak akan mengenang kejadian buruk seumur hidupnya.
salam
Ketika seorang guru ditanya, apa yang dia inginkan dari muridnya? Dapat dipastikan ia akan berkata bahwa ia menginginkan muridnya menjadi orang cerdas.
Tapi, coba lihat, apa yang sudah dilakukan untuk itu? Ada banyak guru yang tidak melakukan proses “pencerdasan” itu dengan baik. Perilaku tidak bersahabat dan kata-kata kasar yang memojokkan masih sangat sering kita dengar keluar dari mulut mereka. Pencerdasan seperti apa yang sesungguhnya mereka inginkan?
Semoga kita dapat belajar dari “kesalahan” yang guru Ceuceu lakukan itu, untuk tidak melakukan hal yang sama nantinya…
@ Aldy : iya..mungkin juga si mas.. tidak mudah memang menjadi seorang guru, yang dituntut dari mereka bukan hanya kecerdaasan intelektual tp juga akhlak…
@ Bee’J ; hhehe.. sudah musnah kok…
@ plesiran : na itu pak dhe.. disangka berbohong tu sangat menyakitkan kan.. ( btw.. kenapa ga dijotos aja Pak Dhe… hehehe.. *jangan ding*… )
@ Advenda : buat kita semua juga si.. ada banyak hikmah bt saya, termasuk urusan mengaji buat anak2 saya sekarang… janganlah sama ma ibunya dulu..
@ nurhayadi ; waduh..mo kemana mas..
@ julie : di tempat ngaji ga ada ketua kelas Jul…
spontanitas yg mengesalkan Jul.. hehe ( keukeuh ya..
)
@ saus kecap : sakit hati sama guru ya cuma sekali itu Ty..
@ Bunda Ly : hehe.. sudah saya maafkan kok Bun.. mkin karena kita/saya juga menuntut lebih dari seorang guru ya Bun…
@ uda Vizon : itu dia maksud saya Uda.. waktu disangka berbohong, saya tambah sakit hati lagi karena ia tidak tahu bagaimana saya ‘berjuang sendirian’ untuk bisa mengaji…
iya.. pengalaman itu memberikan banyak hikmah buat saya…
Kayaknya masih sebal sama sipembuat sebal neh, buktinya masih belum “diganti” artikelnya
(*ngumpet*)
udah lama berlalu, tapi masih membekas yah ceu. InsyaAllah waktu yang akan menghilangkan noda sebal itu di hati ceuceu. sepakat ceuceu, karena begitu banyaknya pengalaman dengan masalah perkataan jadi belajar untuk berkata yang baik-baik ke anak-anak.
membuat saiia sadar kembali.,.,
hhehehehe
berkunjung lagi….
bener sekali mbak..
kalo melihat anak kecil… saya pengennya ingin slalu mempercayai semua kata-katanya, menghargai setiap kata yang mampu mereka sampaikan.. rasanya seneng bisa menempatkan mereka pada porsi yg dewasa, jujur, dan membangun..
pengalaman yang bisa buat senyum buat siapa yang baca…
saya teringat pada kisah di kick andy, dimana ada guru dari indonesia yang mendapat kesempatan untuk tukeran guru di australia, di sana ia heran kenapa seorang guru memberikan apresiasi yang tinggi terhadap seorang murid yang PRnya jelek, alasannya adalah untuk memotivasi siswa…tapi di Indonesia jarang ditemukan hal itu
syukurlah pengalaman itu gak ditularkan pada org lain
karna nantinya malah menjadi luka yg tidak dapat disembuhkan namanya ‘dendam’:sad:
teh ceuce sovie a dady too?
hemm youre a super women !
masih membekas yah teh ucapan Pak.M itu?
harusnya dibenerin yah teh,yang bener surat ini,maen tuduh ajah…
saya jg pnya seorang guru yg galak, tpi skrg klo ketemu malah sgt akrab sekali, bahkan sy pribadi sering sekali berkunjung ke rumahnya
Guru matematika saya galak..tapi sekarang malah seperti teman…Menunggu cerita selanjutnya !