Perkembangan zaman selalu berubah dan dalam banyak hal seperti pekerjaan, tak pernah bisa kita prediksi. Bagaimana seseorang yang sebelumnya memiliki pekerjaan mapan, tiba-tiba terkena PHK dan beralih profesi menjadi penjual makanan keliling. Dalam waktu singkat, kondisi perusahaan tiba-tiba berubah, ekspor menurun akibat daya beli masyarakat turun sebagai dampak dari krisis global. Semua itu diluar prediksi karyawan atau bahkan perusahaan itu sendiri. Kasus ini tidak terjadi sekali dalam beberapa tahun namun sangat mungkin terjadi tanpa kita tahu waktunya. Bagaimana sebuah perusahaan besar dan stablish di Amerika tiba-tiba bangkrut hanya dalam waktu sekejap. Ribuan karyawanpun tekena PHK. Dan jika di negara-negara besar baik Amerika maupun Eropa sebuah perusahaan mengalami kebangkrutan tentu berdampak pada banyak perusahaan di Negara kita, seperti tekstil misalnya, karena pada Negara eropa dan amerika itulah tekstil kita diekspor. Melihat kondisi ini, kita setiap saat perlu mempersiapkan diri untuk berada pada kondisi terburuk.
Rasanya perlu kita semua akui bahwa umumnya kita lebih mempunyai bekal untuk memotivasi diri maju dan berkembang daripada bekal dan persiapan untuk mundur. Dengan kata lain, saat berada pada ‘posisi aman’ kita akan senantiasa mempersiapkan diri atau membekali diri dengan upaya untuk memperoleh posisi yang lebih tinggi dan jarang sekali mempersiapkan diri untuk mundur jika suatu saat perusahaan bangkrut. Dan jika saat ini banyak perusahaan besar yang bangkrut, ribuan karyawan terkena PHK maka kita perlu bertanya pada diri sendiri..masih adakah ‘Job Security’ di zaman yang serba instant, remote dan digital ini?
Jangan Bengong
Siapapun harus mengakui bahwa produktivitas menjadi sangat tinggi dalam keadaan krisis. Betapa dalam keadaan perang, kebakaran, persiapan tender, persaingan, adrenalin akan mengalir deras dan semangat kreatifitas pun langsung berkembang subur. Katakalah seorang yang direkrut untuk menaggulangi pencurian di departemen store dan berhasil mengurangi pencurian sampai titik nol dengan berbagai manuvernya. Dan jika sudah tidak ada lagi pencurian,ia terancam kehilagan pekerjaannya. Orang seperti ini akan hanya dapat terus dipakai jika ia kreatif dan mampu membuat nilai tambah di atas kemampuan yang telah ditunjukkannya, misalnya melakukan tindakan preventif lebih jauh, melakukan coaching atau membuat perencanaan yang pro aktif.
Dengan pemahaman ini, masihkah kita mendambakan keadaan yang aman tentram dalam bekerja, seolah berada di tempat sepi tak berpenghuni? Bukankah kita baru merasa berarti, berharga dan menepuk dada bila bisa mengalahkan situasi, memecahkan masalah, menemukan jalan baru dan berinovasi secara kreatif?
Biasakan Diri Berada di Ujung Tanduk
“Work a little harder as if you die a little younger”. Inilah cara berpikir orang yang selau membiasakan diri berada di ujung tanduk dan memperoleh rasa aman yang timbul karena alertness bukan keadaan status quo.
Paul G. Stoltz, Ph.D dalam bukunya tentang Adversity Quotient tahun 1997, seolah sudah meramalkan bahwa banyak individu memerlukan ‘resep jatuh bangun ‘-nya. Apakah kita akan cepat bangkit dari situasi sulit atau lama terpuruk tergantung dari kadar ‘CORE’ (Control, Ownership, Response dan Endurance) yang kita miliki. Seorang pengusaha yang sudah mengalami jatuh bangun karena krisis mengatakan, ia menyadari betul bahwa krisis datang dalam suatu siklus. Justru pada saat krisis belum datang, kita perlu berlatih dan mendera diri kita sebagai bekal untuk menghadapi arena krisis yang menuntut adu kekuatan. Tidak hilangnya ketenangan, keyakinan akan kekuatan yang dimiliki serta optimism karena terbiasa dan terlatih inilah yang merupakan esensi dari CORE yang disebut oleh Paul G. Stoltz. (Kompas, 21 Maret)
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua teman-teman blogger atau siapapun yang berkunjung ke sini. (Semoga tidak terjadi) namun memang benar, kita harus selalu siap jika saja perusahaan tempat kita bekerja bangkrut. Selain itu, artikel ini juga rasanya mewakili saya dan mungkin beberapa teman yang saat ini memantapkan diri untuk menjadi seorang entrepreneur. Bukan sebuah keputusan yang mudah (bagi saya khususnya) untuk merubah mindset dari seorang karyawan yang terbiasa berada pada posisi aman (dengan gaji tetap per bulan) untuk kemudian membangun sebuah usaha ditengah tugas dan peran saya yang lain yaitu seorang ibu.
Selama jantung masih berdetak, nyawa masih di dalam raga–jatah segala kebutuhan hidup ini berarti masih ada.
Dimanapun posisi kita, pekerja imandiri alias karyawan atau pekerja mandiri alias entrepreneur, yg terpenting adalah meminimalkan (tdk banyak) melakukan kesalahan.
@ abula45 : yes..sippp…sepakat mas…(serta terus belajar menambah keahlian pastinya..)
tidak mudah….
bukan berarti tidak ada jalan keluar,.. itusebabnya seorang entreprenuer harus kaya ide… dan harus selalu berani mengambil keputusan… good luck …
@ firman : Iya bener yah…masih terus belajaaarrrr …
Semangat ya ceu! aku pernah jadi entrepreneur kecil2an.. high risk banget ya! akhirnya kerja kantoran lagi de.. hehehehe..
Selama ada niat, pasti ada jalan.. yakin lah! *hayah..*
Yub semangat sis.and moga sukses usahanya.
ass.
numpang mampir mbak,
mempertahankan semangat enterpreneurnya mbak yang sulit. gmana ya bertahannya?
memotivasi diri sendiri kali ya?
wassalam
@ shanty : iya san, aku juga biasa kerja kantoran..hhehe.. semangat..semangat..!! risk adalah bagian..( read my post ‘why we need to take risk’ on http://www.wisgrove.com )
@ Aisha : ok deh..thanks yaa.. sukses juga Sis..!
@ Neng Rara : iya itu tu yang ga gampang, selain dari diri sendiri kadang butuh dorongan dari orang lain.. makasi dah mampir yaa..
Nice blog…setuju banget atas opininya, terkadang rasa aman dan nyaman atas kondisi kita sekarang yang masih di kuadran kiri (E/S) akan sangat berbahaya buat keberlangsungan masa depan kita. Selamat mencari dan mengejar impian di kuadran kanan, karena hanya di kuadran kanan kita bisa mendapat rasa nyaman sesungguhnya, selain berbekal sabar tentunya.
BTW, makasih udah mampir dan ngasih komen di blog saya.
Salam kenal.
@ Nasir : makasi juga udah mampir… hmm.. lama saya berada di kuadran kiri..kini, coba berada di kuadran kanan..tidak mudah, katanya high risk..! yup bener harus disertai dengan kerja keras dan sabar..btw..saya jadi pengen baca bukunya tu..
[...] Job Security [...]