Malioboro selalu menarik bagiku. Entah ada magnet apa disana, yang pasti aku selalu ingin kembali berada di jalan itu..berjalan diantara deretan becak dan delman yang berparkir di sepanjang jalan Malioboro. Ia begitu klasik di mataku, sebuah harmony diantara laju pembangunan kota dan budaya daerah. Di ujung jalan tampak sebuah panggung dan deretan gerobak penjual makanan. Di atas panggung, para seniman daerah memainkan music gamelan dengan konsisten, sebuah aktualisasi dari kecintaannya pada budaya pribumi dan bukan karena alasan uang karena aku yakin mereka tak dibayar mahal untuk melakukan itu. Para penikmat makanan di atas bangku-bangku gerobak menikmati music sambil memamatuk-matukkan kelima jari tangan di atas meja mengikuti ketukan. Seorang ibu tua tampak sudah hapal ketukan music dan menikmatinya sambil terkantuk-kantuk. Aku sendiri duduk di antara salah satu bangku gerobak penjual bakso. Aku tak menikmati baksonya karena rasa bakso yang tak sesuai lidahku namun aku menikmati keseluruhan suasana saat itu.
Aku lihat jam tangan di tangan kananku menunjukkan pukul dua lebih seperempat, aku beranjak dari bangku dan menyebrang jalan untuk menyusuri sisi kanan jalan Malioboro. Segera mataku sibuk menoleh ke kanan dan kiri, melihat tumpukan barang dagangan yang dijajakan para penjual kaki lima. Mereka begitu aman berjualan disana, tak ada kekhawatiran sewaktu-waktu para petugas kamtib datang dan mengangkut barang dagangan mereka, seperti yang pernah aku lihat di ibu kota. Aku yakin, pemerintah daerah setempat menjamin hak mereka berjualan disana karena mereka menjadi bagian dari daya tarik Malioboro. Lalu aku mengambil sepasang sandal dengan ornament seperti wayang kulit, hanya lima belas ribu rupiah, murah namun cantik. Aku lepas sepatu hak tinggiku dan berganti sandal teplek agar tak lelah kakiku sampai di ujung jalan Malioboro yang lain. Aku ingin berfoto di depan Benteng Vedenberg dan Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Tak ada lelah ketika aku sampai di ujung jalan malioboro yang lain. Sempat mengambil foto di beberapa tempat, aku kemudian duduk sebentar di atas tempat duduk tembok yang pastinya dibuat untuk masyarakat atau pelancong yang datang ke sana. Beberapa saat kemudian aku putuskan untuk naik becak ke alun-laun Yogya. Niatnya, aku ingin melihat kraton, dan ketika sang pengemudi becak menawariku ‘alun-alun selatan apa utara Mba..?’ aku spontan menjawab ‘alun-alun selatan deh Pak..’ aku tak bertanya di alun-alun mana kraton berada, ku pikir walaupun aku tersesat, aku tetap akan menikmati keklasikan kota Yogya..tak apalah.. Cukup lama mencapai alun-alun selatan,mungkin sekitar 15 menit. Aku sampai disana pukul setengah 4 sore, becak menurunkan aku tepat di depan sebuah bangunan cukup tua, sasono inggil…kalo tak salah itu namanya. Katanya bangunan itu adalah tempat pertemuan, mungkin pertemuan para pejabat daerah.
Alun-alun Selatan itu sendiri terbentang di depan sasono itu, tak begitu terawat, hanya sebuah lapangan yang sebagian ditutupi rumput. Tampak ada banyak masyarakat sekitar yang sedang menghabiskan waktu sorenya di sana. Tambah ramai dengan adanya komedi putar, semacam bianglala kecil yang penuh dinaiki anak-anak. Ada pula sekelompok abg yang sepertinya sedang membuat video klip atau apalah, dengan gaya khas anak muda slengean lengkap dengan kamera videonya. Yang menarik perhatianku di tengah lapangan itu adalah dua pohon beringin yang berdiri tegak di tengah lapang. Konon, jarang ada orang dengan mata tertutup yang mampu berjalan melewati dua beringin itu. Katanya pula, jika sultan memiliki sebuah kehendak atau keinginan yang lebih berkaitan dengan peran dan tugasnya sebagai kepala pemerintahan Yogya, maka alun-alun selatan akan dikosongkan dari kunjungan masyarakat dan sultan akan berjalan dengan mata tertutup dari sisi lapangan kearah dua beringin itu. Jika mampu melewatinya maka semua keinginan akan tercapai, namun jika tidak, maka keinginan atau kehendak yang terucap dalam hati dan pikiran tidak akan tercapai atau mungkin tertunda. Aku bukan kaum yang percaya takhyul namun hal ini membuat aku penasaran. Jadilah aku mencoba berjalan menuju ke bagian tengah dua beringin yang gagah berdiri. Jarak mereka mungkin sekitar 40 meter di depanku sementara jarak kedua beringin adalah sekitar 10 meter. Dengan mata tertutup saputangannya, aku mulai berjalan.
Beberapa inginku sempat aku ucapkan.. (halah…) dan aku merasa berjalan lurus…ah rasanya mudah saja kok melewati jalan menembus kedua makhluk gagah itu. Namun setelah aku rasa cukup lama berjalan, aku mulai curiga.. kok tidak jua sampai ya…?? Akhirnya ia membuka sapu tangan penutup mataku dan aneh, aku ternyata berbelok kearah kanan sekitar dua meter sebelum batas kedua beringin itu berdiri. Hmm… cukup aneh, tapi rasanya pasti ada penjelasan fisika, kimia ,logaritma, integral dan alasan ilmiah lain yang dapat menjelaskan mengapa kita tidak bisa benar-benar berjalan lurus, dengan mata tertutup, di atas bumi..(hmm…pasti ada ya..). Aku tidak lantas berpikir keinginanku tak akan tercapai, aku selalu yakin bahwa pintaku, inginku dapat kucapai selama aku menjaga proses pencapaian itu dengan sebaik-baiknya.
Tak terasa hari tambah sore, aku pun kembali ke penginapan, beristirahat sejenak sambil merencanakan acara untuk nanti malam. Acara utama pastinya adalah makan di lesehan Malioboro, ditemani pengamen jalanan, ditemani pembaca puisi jalanan, ditemani pelukis jalanan, ditemani langit cerah penuh cinta Malioboro…
Rumahku deket Jogja,pernah di Jogja,tapi anehnya kok,belum pernah ke malioboro ya,hehehehe
wew… jd kepengen berkunjung ke Malioboro yaaa… ehheheh… i hope someday ^o^
aku pernah kesituuuuuuuu hihihihihi….
@ duadua ; bagi masyarakat yogya dan sekitarnya, mungkin malioboro biasa aja, aku punya banyak teman anak yogya yang merasa ga ada yang istimewa dengan malioboro, cuma bagi aku..hhmm..asik aja ada di sana…hehhe
@xiaoling ; iya..coba berkunjung kesana..mungkin kesannya akan beda dengan aku.. tapi coba ada deh..
@rhe maniess : hihihi…jalan juga ke tengah beringin itu..??
Malioboro, betapa ingin ini begitu besar untuk menjejakan kakiku di sana.
Kapankah itu?
Jadi rindu Malioboro…rindu Yogya, kota yang lama kutinggali tapi lama pula tak ku kunjungi..hiks
@Acha : jadi pengen ya…btw acha ada dimana? Sebagian besar daerah baru yang dibangun para developer, di ibukota misal, atau yang pasti di BSD, Kota Wisata Cibubur dll..justru berkonsep modern, dengan tema ‘Barat/Eropa’..boro-boro ada becak atau delman yang boleh lewat..rasanya jenis bagunan yang berkonsep asli daerah kita dah ga ada..hhmm yogya/malioboro jadi tampak sangat klasik.. ( hehe..jadi curhat ya..)..thanks dah berkunjung kesini..
@Ani : Wah..sibuk banget jadi ga sempet ya… thanks dah berkunjung..
wah, jadi inget dulu waktu masih kul di Ngayogjokarto