Ini cerita saat Mas Rafi berusia 4 tahun dan bersekolah di RA. Al Izzah Tasikmalaya.
Saat itu aku sedang di BSD ( cari sesuap nasi ) dan kemudian mendapat telpon dari kepala sekolah tempat Rafi bersekolah. ‘Mama Onit, Rafi mo diikutkan test psikologi ngga ? … ‘ o iya Bu, ikutkan saja..’. Aku yang sedang berada di BSD tidak sempat melihat bagaimana proses test itu berlangsung tapi sepertinya tidak jauh berbeda saat test itu dilakukan pada kakaknya saat masih bersekolah di TK yang sama. Setiap setahun sekali, TK Islam Terpadu tempat kedua anakku bersekolah memang mengadakan test psikologi untuk siswanya (yang berminat). Kupikir ini cukup penting, minimal hasilnya bisa dijadikan pedoman bagi kami, para ortu, ibu khususnya, dalam menerapkan pola asuh bagi anak-anaknya.
Saat itu hari Jumat, aku pulkam (lagi). Walau rasanya lelah, tapi aku kangen pada Onit dan Rafi apalagi pada minggu lalu si kecil baru saja berobat karena ada luka bernanah di tangan kirinya. Kebetulan, saat sampai rumah, ada undangan dari TK bahwa hari Sabtu, ada penjelasan mengenai hasil test psikologi anak yang dilakukan hampir sebulan yang lalu itu.
Sampai di sekolah, aku baca tiga lembar kertas hasil test itu.. hmm.. secara umum, perkembangan mental dan motorik anakku adalah normal, begitu juga IQ nya. Namun ada beberapa catatan yang menurutku penting bagiku dalam menerapkan pola asuh untuknya.
• Ada tiga belas point yang dinilai, yaitu Achievement, Pertahanan diri, Otonomi, Penonjolan diri, Kerjasama, Kepedulian, Ketergantungan, Dominasi, Kebimbangan, Keajegan, Heterosexual, dan Agresifitas.
Semua point itu diberi skala 0-100. Dikatakan normal, jika nilainya tidak jauh dari angka 50-60. Semua penjelasan dari Ibu Dewi (psikolog) aku catat.
Khusus untuk si kecil Rafi, hampir semua point yang dinilai, hasilnya normal namun ada point yang nilainya ekstrim/terlalu tinggi yaitu point ‘kepedulian’ (93) .
Menurut sang Psikolog, nilai ‘kepedulian’ pada anak yang terlalu tinggi dicirikan sbb:
- Kadang merengek minta sesuatu tapi tidak diungkapkan dengan jelas ( hmm.. Rafi ga pernah si klo begini )
- Kurang bisa mengeluarkan emosi ( pantas saja…jika Rafi sedang bermain dan temannya jahil atau pelit (menurutnya), ia tidak melawan dan hanya pulang sambil menggerutu … ‘dede ga mo maen lagi sama faris, …farisnya galak…’ heheheh )
- Sangat perasa ( kalo yang ini bener banget..)
- Mudah terbawa emosi, misal kalo nonton tayangan film ia akan ikut menangis/gembira ( yang ini bener banget.. saat nonton Godzila yang adegannya sedih.. anakku ini ikut menitikkan air mata.. dan nangis beneran.. )
Nilai kepedulian yang terlalu tinggi, salah satunya disebabkan karena pola asuh yang tidak kompak/konsisten. Ketidakkompakkan atau ketidakkonsistenan bisa terjadi antara ayah dan ibunya atau karena ia tidak hanya di asuh oleh ortunya tapi juga oleh nenek/kakeknya. Saat ibunya bisa tegas, misal menolak keinginan anak, sang nenek-kakek justru mengabulkannya (karena sayang). Ini menjadi cacatan buatku !
Maka pola asuh yang diterapkan adalah menjaga kekompakkan atau kekonsistenan itu. Selain itu, aku juga diminta untuk lebih mengajarkan anakku tentang ‘bela diri’ ..bukan silat atau taekwondo.. tapi Rafi harus diajarkan agar ia mampu membela dirinya (secara verbal) baik saat ia bermain/bersosialisasi dengan teman-temannya atau dengan kakaknya sendiri….
Lalu dari keseluruhan test itu, psikolog juga dapat menyimpulkan bagaimana dominansi otak yang bekerja pada anak. Untuk anak usia TK, dominansi otak yang bekerja, normalnya/biasanya adalah bagian kanan. Dan untuk anakku, ternyata dominansi otaknya adalah -2 Kiri.. weleh…weleh..
Dominansi otak kiri biasanya dimiliki oleh anak kelas 3 SD, yang sudah mulai bisa berpikir secara logika. Oleh karena itu, sang psikolog memberitahuku bahwa jika menjelaskan sesuatu pada Rafi, harus dengan logika dan fakta-fakta… ( weleh… ga bisa di boongi dong…. Heheheh..). Pantas saja.. ia sering bertanya… saat diajarkan baca latin dan iqro misalnya.., dia tanya gini ‘ ini kok dibacanya ba (sambil menunjuk tulisan ‘ba’) yang ini juga ‘ba’ (sambil menunjuk huruf ‘ba’ pada buku iqro satu ) atau kalo ia minta jajan dan aku tolak karena di luar hujan..maka ia akan jawab..’kalo hujan kan bisa pake payung nda..’ atau saat ia naik mobil2an di arena bermain anak, ia akan turun sesaat kemudian berjongkok untuk melihat mesin yang bekerja pada mobil2an itu… hihhihihi.. pintar sekali engkau Nak…
Dan untuk yang ini, sang psikolog memintaku agar Rafi lebih sering diberi tugas mewarnai gambar di rumah…
Oya.. ada pertanyaan lucu dari salah satu ortu pada saat pertemuan itu “ Bu..anak saya kok suka mengancam ya…kalo minta sesuatu dan tidak dikabulkan, ia mengancam sambil membanting benda .. “ lalu sang psikolog balik bertanya….’coba ingat-ingat lagi Bu.. Ibu mungkin pernah mengancam anak ibu..misal “ hayoo…kalo ga bobo siang nanti ga diajak… dsb..dsb..”… sang ibu hanya terdiam sambil senyum2… (heheh.. pasti ia bergumam …salah gua sendiri ya..?). Karena pertanyaan itu, akupun bertanya pada diri sendiri.. ‘mm..kayaknya aku juga pernah mengancam anakku… soalnya, kadang kalo Rafi menginginkan sesuatu dan tidak dikabulkan..ia akan berkata…’ ya udah… dede ga mau sekolahhhhh…. Selamanyaaaaaaaaaa….. !!!