Online Store

Dunia bisnis online sebenarnya bukan hal baru bagiku.  Terhitung sejak masih menjadi orang ‘gajian’ tahun 2009, aku sudah mulai mengenal bisnis online.  Waktu itu dimulai dengan menjadi web marketing dan mengelola beberapa blog berbahasa inggris.  Tentu saja, karena binis online di ‘luar’ sana telah lebih dulu berjalan…pendapatannya ? ..hmmm..lumayanlah..bisa narik dollar setiap bulan.

Keputusan untuk terjun di dunia bisnis secara total dimulai dari pemikiran bahwa aku tidak bisa terus menerus bekerja di luar kota dan berjauhan dengan anak-anak.  Mencari pekerjaan baru di kota lain? tentu bukan hal mudah mengingat usia yang tak lagi muda icon smile Online Store juga tak memiliki ‘koneksi’ di kota tempat tinggal aku sekarang .  so.. oke deh.. kuputuskan untuk berbisnis saja, apalagi kini suamiku juga aku akan memulai bisnis yang  sekiranya bisa aku kerjakan juga.

Bukan hal mudah untuk menentukan bisnis apa yang akan dijalani. Fashion ? food ? property ? farmasi ? atau apa.  Jika akhirnya kuputuskan untuk berbisnis di bidang fashion, itu karena aku yakin pekerjaan apapun akan enjoy kita lakukan jika itu memang passion kita, artinya kita tertarik pada bidang itu, atau kita cukup ‘menguasai’ bidang itu.  ‘menguasai’ yang ku maksud minimal adalah aku tertarik mengamati perkembangan fashion dan aku suka fashion icon smile Online Store .  Setelah menentukan jenisnya, tentu ada banyak hal lain yang perlu dipikirkan, apakah barang yang dijual hanya yang kita produksi sendiri ? menjadi reseller ? membeli barang jadi untuk dijual lagi ..atau bagaimana.. belum kita pikirkan konsep penjualannya dan lain-lain.  Hmm… bukan hal mudah, tapi jika sudah diputuskan, semua hambatan harus kita jalani bukan? Tinggal terus berusaha dan berdoa saja….

Pelan tapi pasti, online storeku terus berjalan.  Untuk saat ini, barang yang ada di sana adalah produksi pihak lain.  Namun nantinya, insya allah dalam waktu dekat ini, akan ada barang yang kami produksi sendiri.  Tentulah disana idealism kami tertuang.

Jadi sekarang ini, kami tidak hanya berpikir bagaimana mengembangkan online store kami agar dikenal banyak orang, tapi juga merealisasikan satu persatu langkah untuk menjadi produsen barang, merumuskan konsep, membuat logo, dan lain-lain.  Bisnis off line nya ? tetap berjalan dengan melakukan perbaikan gerai kami agar tampak lebih baik.

God Bless Us… Amin.

My Dear Sovi

Months have passed
Every day I find I’m thinking of you,
Though no word from you that message sends.
And yet we share all other thoughts and feelings:
I cannot wait to tell you of my day,
And you give me the gist of all your dealings,
Which makes me hope we walk in the same way.
Telling you this is opening a door
That never can be closed again, and yet
I must, because I ache for something more,
Something that I must risk all to get.
Some night, perhaps, we’ll go hang out somewhere;
I will reach for you, and you’ll be there.

My dear sovi
I want be the wind that fills your sail
Be the hand that lifts your veil
Be the moon that moves your tides

Rahasia Dunia

Orang mempunyai kecenderungan untuk melihat hal-hal yang mereka inginkan dan berkata, ‘ya, saya suka itu, saya ingin itu.’  Lalu mereka melihat hal-hal yang tidak mereka inginkan dan memberi energy yang sama, bahkan mungkin lebih besar, dengan pemikiran bahwa mereka dapat mengenyahkannya, menghapusnya, menyingkirkannya.  Di masyarakat kita, kita telah dibiasakan dengan perlawanan terhadap kemiskinan, perlawanan terhadap perang, perlawanan terhadap obat-obatan terlarang, perlawanan terhadap tetorisme, perlawanan terhadap kekerasan.  Kita cenderung melawan segala sesuatu yang tidak kita inginkan, yang sebenarnya justru menciptakan lebih banyak perlawanan. (Lisa Nichols).
Penolakan terhadap sesuatu adalah seperti berusaha mengubah gambar luar setelah segala sesuatu itu dipancarkan.  Ini adalah upaya yang sia-sia.  Kita harus masuk ke dalam diri dan memancarkan sinyal baru dengan pikiran dan perasaan untuk menciptakan gambar baru.  Ketika kita menolak apa yang telah muncul, kita menambah energy dan daya pada gambar-gambar yang tidak kita sukai itu dan kita mendatangkan mereka dengan kecepatan yang tinggi.
Segala sesuatu yang kita fokuskan akan kita ciptakan.  Jadi misalnya, jika kita sungguh-sungguh marah pada perang yang sedang berlangsung, atau pemogokan, atau penderitaan, kita menambah energy padanya.  Kita mendorong diri dan ini hanya menciptakan penolakan.
“Apa yang Anda tolak akan bertahan.”  Garl Jung (1875 – 1961).
Gerakan antiperang menciptakan lebih banyak perang, gerakan antinarkoba justru menciptakan lebih banyak narkoba.  Karena kita berfokus pada apa yang tidak kita inginkan..! Jack Canfield.
Ibu Teresa semasa hidupnya pernah berkata.. “ saya tidak akan pernah menghadiri demonstrasi antiperang. Jika anda mengadakan demonstrasi damai, undanglah saya.”   Ia tahu.  Ia memahami Rahasia Dunia.
Segala sesuatu di dunia ini dimulai dengan satu pikiran.  Semakin membesarnya sesuatu disebabkan karena lebih banyak orang yang memikirkannya setelah muncul.  Kemudian pikiran dan emosi itu mempertahankan keberadaan peristiwa itu serta memperbesarnya.  Jika kita melepas pikiran darinya dan berfokus pada cinta, sesuatu itu tidak akan ada lagi.  Sesuatu itu akan menguap dan menghilang.
Paparan di atas merupakan kutipan dari buku The Secret (Rhonda Byrne).  Aku membelinya beberapa tahun lalu.  Buku itu bagus dan dalam beberapa hal, aku mencoba menerapkannya dalam hidupku.  Dan memang benar bahwa sesuatu yang akan terjadi dimulai dari apa yang kita pikirkan. Beberapa hari ini aku memikirkan sesuatu yang buruk dan menyedihkan dan hasilnya memang buruk.. hanya sedih, bad mood dan thinking something negatively….  Uurff..so bad !!
Aku rekomendasikan buku itu untuk dibaca ( bagi yang belom… ).  Keep reading..ok !

Ko-Dependensi…?? Stay off…!!!

Tertarik membaca sebuah artikel di sebuah Koran nasional beberapa bulan lalu yang ditulis oleh seorang psikolog, Kristi Poerwandari.  Mengapa tiba-tiba ingin menampilkannya sekarang..karena kebetulan saya melihat sebuah kasus yang hampir serupa dengan bahasan artikel itu.  Bahasannya adalah tentang Ko-Dependensi.  Dilihat dari katanya ‘ko-dependensi’ mungkin langsung akan kita artikan sebagai ‘ketergantungan’.  Istilah ‘Ko-Dependensi’ itu sendiri  muncul pada tahun 1979 di Negara Barat ketika praktisi kesehatan mental melihat adanya individu-individu yang hidupnya menjadi ‘tak terkendali’ dan ‘tidak sehat’ karena mengembangkan pola penyesuaian diri tertentu sebagai akibat kelekatan emosionalnya pada pecandu obat-obatan dan alcohol.
Dalam perkembangannya istilah tersebut kemudian dipakai untuk menjelaskan sebuah kasus yang menimpa individu-individu yang rela melakukan ‘penyesuaian diri’ yang sangat ‘luar biasa’ (jadi ‘tidak sehat’)akibat perasaannya yang merasa terikat secara emosional terhadap seseorang yang bahkan tidak atau tidak mampu atau menolak bertanggung jawab pada dirinya sendiri.  Seseorang tersebut bisa mengalami ketergantungan napza, alkoholik, judi atau pasangan yang tidak pernah setia.
Dalam hal ini, saya melihat sebuah kasus tersebut terjadi pada orang yang tidak jauh dari kehidupan saya.  Bagaimana seorang perempuan cantik, masih muda, dan memilki karir bagus tetap dengan setia menjadi kekasih seorang yang alkoholik.  Ada pula seorang suami, tampan, memiliki karir cukup bagus namun tetap setia menjadi pasangan dari istri yang jelas tidak mengurus rumah dan anak-anaknya   bahkan selingkuh.  Hmmm….hari gini..kok masih ada ya individu yang menjalani hidup demikian..?  Lalu sebenarnya, siapa yang dapat mengembangkan ko-dependensi ?  Siapapun bisa..! menurut psikolog, siapapun dapat mengembangkan ko-dependensi, apalagi ketika kita jatuh cinta, sangat terpukau dan kemudian mengidealisasikan pasangan.  Meski demikian, yang lebih rentan mengembangkan sikap ini adalah ia yang mungkin dibesarkan dalam keluarga atau lingkungan terdekat dimana orang tua tidak mampu memberikan rasa aman dan kasih sayang.  Salah satu karakteristik ko-dependensi adalah dorongan untuk ‘menjadi penyelamat’ atau ‘mengambil alih tanggungjawab’.
Nah…tidak ingin kan kita atau keluarga, teman, sahabat hidup menjadi orang yang ko-dependensi..?  Untuk keluar dari ko-dependensi tersebut, kita perlu menyakini beberapa point berikut :
1.    Untuk dapat mencintai orang lain secara sehat, kita wajib mencintai dan mengurus diri sendiri dulu…!! Analoginya adalah peringatan di atas pesawat: ketika ada gangguan dan masker udara turun, tidak boleh memakaikan masker tersebut pada orang lain bahkan anak sendiri, pakai masker tersebut untuk diri kita sendiri terlebih dahulu karena bila tidak, semua pihak dapat terlanjur kehilangan oksigen.
2.    Menetapkan prinsip-prinsip dasar yang harus ada dan tidak boleh dilanggar ketika menjalin sebuah hubungan khusus.  Misalnya prinsip saling menghormati dan tanggung jawab yang setara.
3.    Yakini bahwa manusia dewasa akhirnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.  Kita tidak perlu mengambil alih untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya (pasangan).  Kita juga tidak perlu   terobsesi mengubahnya karena perubahan mendasar hanya dapat dilakukan atas kesadaran sendiri, bukan karena paksaan dari luar.
Jadi, walaupun cinta mati pada seseorang, akhirnya kita perlu menetapkan waktu yang jelas dan sikap yang tegas agar tidak menghancurkan diri sendiri dengan terjerat ko-dependensi.  Tentu tidak mudah, namun proses ‘pelepasan diri’dari ko-dependensi akan menjadi proses penemuan diri dalam dunia yang membentang luas.  Meski banyak kekacauan di dunia, masih ada orang-orang baik yang akan kita temui dan dengan mereka kita dapat menjalin hubungan saling menghormati…dan tentu dengan penuh cinta dan kasih sayang tulus……!!!!!!!!

Idealisme versus….

Mungkin pandanganku sama dengan individu yang mempunyai peran sebagai pendidik bahwa hal yang paling berat dipikul ketika tugas mendidik itu sedang berjalan dan telah selesai adalah mempertanggungjawabkan secara moral akan kualitas anak didik baik dari sisi kualitas intelektualnya atau bahkan akhlaknya.  Pertanggungjawaban moral itu tidak hanya pada siswa itu sendiri namun tentu pada orang tua siswa dan masyarakat.  Tidak heran jika pada setiap ujian nasional maka rasa stress tidak hanya melanda siswa yang akan menghadapi ujian, para ortu yang takut anaknya tidak lulus, namun juga para pendidik karena kelulusan peserta didiknya merupakan tanggung jawab moral yang dapat ia berikan atau tunjukkan kepada orang tua dan masyarakat.  Tidak hanya sampai disitu, saat mereka masuk sekolah lanjutan atau masuk ke dalam masyarakat dan dunia kerja, seorang pendidik akan merasa telah gagal jika anak didiknya tidak mencapai prestasi yang optimal.
Tanggung jawab moral yang kini rasanya aku hadapai adalah ketika idealismeku bertabrakan dengan batasan kewenangan dan budget !
One day, kami sedang memproduksi CD interaktif pembelajaran dengan materi Asuhan Kebidanan.  Aku tidak dalam posisi pemateri seperti dahulu kami memproduksi CDi IPA dan MAtematika, tapi posisiku lebih sebagai orang yang memastikan seluruh pembuatan CDi itu berjalan sesuai target dan schedule.  Selain itu, aku juga diminta untuk melakukan koreksi atas materi tapi lebih kepada susunan kalimat, ejaan dll, tidak masuk dalam content.  Ketika melakukan koreksi atas materi, sebenarnya banyak ide di kepala ini yang ingin aku tuangkan.  Bukan merasa lebih hebat namun pembuatan CDi menurutku tidak hanya menuntut penguasaan kita akan materi namun juga daya kreativitas ketika memvisualisasikan materi tersebut ke dalam bentuk animasi.  Karena aku tidak memiliki wewenang untuk mengubah dan atau menambah materi, scenario animasi dan video maka semua ide itu tertahan di kepalaku.  Ahh.. gerah rasanya.
Disisi yang lain, kalaupun ada ruang untuk memuntahkan semua ide dan idealialisme itu, konsekuensi logisnya adalah diperlukan biaya tinggi..! bagaimana tidak, saat ide (yang muncul karena rasa idealism itu ingin aku pertahankan) dituliskan secara detail sebagai scenario animasi maka dibutuhkan seorang animator handal untuk membuatnya.  Dan animator handal itu mahal harganya !!  Ahh.. kembali aku merasa gerah karena ide dan idealismeku tertahan… !!
Lalu jika aku ingat tanggung jawab moral itu, akankah semua individu di luar sana dapat memakluminya tanpa harus aku melakukan penjelasan…
Ahh… jadi lieurrr…
Maaf jika kosa kata dan alur kalimat dalam tulisan ini tidak teratur, aku menulis ini ketika merasa buntu !!  sudah jam dua belas malam.. huruf-huruf di layar computer rasanya bertambah kecil dan menjauh..  … pekerjaan masih banyak…  laper..  pengen nonton avatar 3D…. tadi sore pengen ikut nonton bola di senayan…  pengen beli celana jeans warna biru tua karena celana yang ada rasanya tambah sesak akibat sering makan cemilan tanpa olah raga…. Pengen mengupdate blog2… pengen mencoba berarung jeram.. dan pengen-pengen yang lain…
Daripada tambah ngelantur maka curcol ini aku sudahi saja… mungkin sebaiknay aku pergi tidur saja biar rasa ‘kepengennya’ ga nambah banyak..   !!!  have a nice dream kawan-kawan…  see you tomorrow morning ..
PS : Namun demikian, di atas semua keterbatasan itu, aku (tentu saja dengan tim) akan tetap dengan sekuat tenaga memproduksi CDi dengan kualitas yang baik.

Dominansi Otak

Ini cerita saat Mas Rafi berusia 4 tahun dan bersekolah di RA. Al Izzah Tasikmalaya.
Saat itu aku sedang di BSD ( cari sesuap nasi ) dan kemudian mendapat telpon dari kepala sekolah tempat Rafi bersekolah.  ‘Mama Onit, Rafi mo diikutkan test psikologi ngga ? … ‘ o iya Bu, ikutkan saja..’.  Aku yang sedang berada di BSD tidak sempat melihat bagaimana proses test itu berlangsung tapi sepertinya tidak jauh berbeda saat test itu dilakukan pada kakaknya saat masih bersekolah di TK yang sama.  Setiap setahun sekali, TK Islam Terpadu tempat kedua anakku bersekolah memang mengadakan test psikologi untuk siswanya (yang berminat).  Kupikir ini cukup penting, minimal hasilnya bisa dijadikan pedoman bagi kami, para ortu,  ibu khususnya, dalam menerapkan pola asuh bagi anak-anaknya.
Saat itu hari  Jumat, aku pulkam (lagi).  Walau rasanya lelah, tapi aku kangen pada Onit dan Rafi apalagi pada minggu lalu si kecil baru saja berobat karena ada luka bernanah di tangan kirinya.  Kebetulan, saat sampai rumah, ada undangan dari TK bahwa hari Sabtu, ada penjelasan mengenai hasil test psikologi anak yang dilakukan hampir sebulan yang lalu itu.
Sampai di sekolah, aku baca tiga lembar kertas hasil test itu..  hmm.. secara umum, perkembangan mental dan motorik anakku adalah normal, begitu juga IQ nya.  Namun ada beberapa catatan yang menurutku penting bagiku dalam menerapkan pola asuh untuknya.
•    Ada tiga belas point yang dinilai, yaitu Achievement,  Pertahanan diri, Otonomi, Penonjolan diri, Kerjasama, Kepedulian, Ketergantungan, Dominasi, Kebimbangan, Keajegan, Heterosexual, dan Agresifitas.
Semua point itu diberi skala 0-100.  Dikatakan normal, jika nilainya tidak jauh dari angka 50-60.  Semua penjelasan dari Ibu Dewi (psikolog) aku catat.
Khusus untuk si kecil Rafi, hampir semua point yang dinilai, hasilnya normal namun ada point yang nilainya ekstrim/terlalu tinggi yaitu point ‘kepedulian’  (93) .
Menurut sang Psikolog, nilai ‘kepedulian’ pada anak yang terlalu tinggi dicirikan sbb:
-    Kadang merengek minta sesuatu tapi tidak diungkapkan dengan jelas ( hmm.. Rafi ga pernah si klo begini  )
-    Kurang bisa mengeluarkan emosi ( pantas saja…jika Rafi sedang bermain dan temannya jahil atau pelit (menurutnya), ia tidak melawan dan hanya pulang sambil menggerutu … ‘dede ga mo maen lagi sama faris,   …farisnya galak…’   heheheh )
-    Sangat perasa ( kalo yang ini bener banget..)
-    Mudah terbawa emosi, misal kalo nonton tayangan film ia akan ikut menangis/gembira ( yang ini bener banget.. saat nonton Godzila yang adegannya sedih.. anakku ini ikut menitikkan air mata.. dan nangis beneran.. )
Nilai kepedulian yang terlalu tinggi, salah satunya disebabkan karena pola asuh yang tidak kompak/konsisten.  Ketidakkompakkan atau ketidakkonsistenan bisa terjadi antara ayah dan ibunya atau karena ia tidak hanya di asuh oleh ortunya tapi juga oleh nenek/kakeknya.  Saat ibunya bisa tegas, misal menolak keinginan anak, sang nenek-kakek justru mengabulkannya (karena sayang).  Ini menjadi cacatan buatku !
Maka pola asuh yang diterapkan adalah menjaga kekompakkan atau kekonsistenan itu.  Selain itu, aku juga diminta untuk lebih mengajarkan anakku tentang ‘bela diri’ ..bukan silat atau taekwondo.. tapi Rafi harus diajarkan agar ia mampu membela dirinya (secara verbal) baik saat ia bermain/bersosialisasi dengan teman-temannya atau dengan kakaknya sendiri….
Lalu dari keseluruhan test itu, psikolog juga dapat menyimpulkan bagaimana dominansi otak yang bekerja pada anak.  Untuk anak usia TK, dominansi otak yang bekerja,  normalnya/biasanya adalah bagian kanan.  Dan untuk anakku, ternyata dominansi otaknya adalah -2 Kiri..  weleh…weleh..
Dominansi otak kiri biasanya dimiliki oleh anak kelas 3 SD, yang sudah mulai bisa berpikir secara logika.  Oleh karena itu, sang psikolog memberitahuku bahwa jika menjelaskan sesuatu pada Rafi, harus dengan logika dan fakta-fakta… ( weleh… ga bisa di boongi dong…. Heheheh..).  Pantas saja.. ia sering bertanya… saat diajarkan baca latin dan iqro  misalnya.., dia tanya gini ‘ ini kok dibacanya ba (sambil menunjuk tulisan ‘ba’) yang ini juga ‘ba’ (sambil menunjuk huruf ‘ba’ pada buku iqro satu ) atau kalo ia minta jajan dan aku tolak karena di luar hujan..maka ia akan jawab..’kalo hujan kan bisa pake payung nda..’ atau saat ia naik mobil2an di arena bermain anak, ia akan turun sesaat kemudian berjongkok untuk melihat mesin yang bekerja pada mobil2an itu… hihhihihi..  pintar sekali engkau Nak…
Dan untuk yang ini, sang psikolog memintaku agar Rafi lebih sering diberi tugas mewarnai gambar di rumah… 
Oya.. ada pertanyaan lucu dari salah satu ortu pada saat pertemuan itu   “ Bu..anak saya kok suka mengancam ya…kalo minta sesuatu dan tidak dikabulkan, ia mengancam sambil membanting benda .. “ lalu sang psikolog balik bertanya….’coba ingat-ingat  lagi Bu.. Ibu mungkin pernah mengancam anak ibu..misal “ hayoo…kalo ga bobo siang nanti ga diajak… dsb..dsb..”… sang ibu hanya terdiam sambil senyum2… (heheh.. pasti ia bergumam …salah gua sendiri ya..?).  Karena pertanyaan itu, akupun bertanya pada diri sendiri.. ‘mm..kayaknya aku juga pernah mengancam anakku… soalnya,  kadang kalo Rafi menginginkan sesuatu dan tidak dikabulkan..ia akan berkata…’ ya udah… dede ga mau sekolahhhhh…. Selamanyaaaaaaaaaa…..   !!!

(sebuah catatan kecil) : Malioboro dan Dua Beringin Itu

Malioboro selalu menarik bagiku.  Entah ada magnet apa disana, yang pasti aku selalu ingin kembali berada di jalan itu..berjalan diantara deretan becak dan delman yang berparkir di sepanjang jalan Malioboro.  Ia begitu klasik di mataku, sebuah harmony diantara laju pembangunan kota dan budaya daerah.  Di ujung jalan tampak sebuah panggung dan deretan gerobak penjual makanan.  Di atas panggung, para seniman daerah memainkan music gamelan dengan konsisten, sebuah aktualisasi dari kecintaannya pada budaya pribumi dan bukan karena alasan uang karena aku yakin mereka tak dibayar mahal untuk melakukan itu.  Para penikmat makanan di atas bangku-bangku gerobak menikmati music sambil memamatuk-matukkan kelima jari tangan di atas meja mengikuti ketukan. Seorang ibu tua tampak sudah hapal ketukan music dan menikmatinya sambil terkantuk-kantuk.  Aku sendiri duduk di antara salah satu bangku gerobak penjual bakso.  Aku tak menikmati baksonya karena rasa bakso yang tak sesuai lidahku namun aku menikmati keseluruhan suasana saat itu.
Aku lihat jam tangan di tangan kananku menunjukkan pukul dua lebih seperempat, aku beranjak dari bangku dan menyebrang jalan untuk menyusuri sisi kanan jalan malioboro.  Segera mataku sibuk menoleh ke kanan dan kiri, melihat tumpukan barang dagangan yang dijajakan para penjual kaki lima.  Mereka begitu aman berjualan disana, tak ada kekhawatiran sewaktu-waktu para petugas kamtib datang dan mengangkut barang dagangan mereka, seperti yang pernah aku lihat di ibu kota.  Aku yakin, pemerintah daerah setempat menjamin hak mereka berjualan disana karena mereka menjadi bagian dari daya tarik Malioboro.  Lalu aku mengambil sepasang sandal dengan ornament seperti wayang kulit, hanya lima belas ribu rupiah, murah namun cantik.  Aku lepas sepatu hak tinggiku dan berganti sandal teplek agar tak lelah kakiku sampai di ujung jalan Malioboro yang lain.  Aku ingin berfoto di depan Benteng Vedenberg dan Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Tak ada lelah ketika aku sampai di ujung jalan malioboro yang lain.  Sempat mengambil foto di beberapa tempat, aku kemudian duduk sebentar di atas tempat duduk tembok yang pastinya dibuat untuk masyarakat atau pelancong yang datang ke sana.  Beberapa saat kemudian aku putuskan untuk naik becak ke alun-laun Yogya.  Niatnya, aku ingin melihat kraton, dan ketika sang pengemudi becak menawariku ‘alun-alun selatan apa utara Mba..?’ aku spontan menjawab ‘alun-alun selatan deh Pak..’ aku tak bertanya di alun-alun mana kraton berada, ku pikir walaupun aku tersesat, aku tetap akan menikmati keklasikan kota Yogya..tak apalah..  Cukup lama mencapai alun-alun selatan,mungkin sekitar 15 menit.  Aku sampai disana pukul setengah 4 sore, becak menurunkan aku tepat di depan sebuah bangunan cukup tua, sasono inggil…kalo tak salah itu namanya.  Katanya bangunan itu adalah tempat pertemuan, mungkin pertemuan para pejabat daerah.
Alun-alun Selatan itu sendiri terbentang di depan sasono itu, tak begitu terawat hanya sebuah lapangan yang sebagian di tutupi rumput.  Tampak ada banyak masyarakat sekitar yang sedang menghabiskan waktu sorenya di sana.  Tambah ramai dengan adanya komedi putar, semacam bianglala kecil yang penuh dinaiki anak-anak.  Ada pula sekelompok abg yang sepertinya sedang membuat video klip atau apalah, dengan gaya khas anak muda slengean lengkap dengan kamera videonya.  Yang menarik perhatianku di tengah lapangan itu adalah dua pohon beringin yang berdiri tegak di tengah lapang.  Konon, jarang ada orang dengan mata tertutup yang mampu berjalan melewati  dua beringin itu.  Katanya pula, jika sultan memiliki sebuah kehendak atau keinginan yang lebih berkaitan dengan peran dan tugasnya
sebagai kepala pemerintahan Yogya, maka alun-alun selatan akan dikosongkan dari kunjungan masyarakat dan sultan akan berjalan dengan mata tertutup dari sisi lapangan kearah dua beringin itu.  Jika mampu melewatinya maka semua keinginan akan tercapai, namun jika tidak, maka keinginan atau kehendak yang terucap dalam hati dan pikiran tidak akan tercapai atau mungkin tertunda.  Aku bukan kaum yang percaya takhyul namun hal ini membuat aku penasaran.  Jadilah aku mencoba berjalan menuju ke bagian tengah dua beringin yang gagah berdiri. Jarak mereka mungkin sekitar 40 meter di depanku sementara jarak kedua beringin adalah sekitar 10 meter.  Dengan mata tertutup saputangannya, aku mulai berjalan.
Beberapa inginku sempat aku ucapkan.. (halah…) dan aku merasa berjalan lurus…ah rasanya mudah saja kok melewati jalan menembus kedua makhluk gagah itu.  Namun setelah aku rasa cukup lama berjalan, aku mulai curiga.. kok tidak jua sampai ya…?? Akhirnya ia membuka sapu tangan penutup mataku dan aneh, aku ternyata berbelok kearah kanan sekitar dua meter sebelum batas kedua beringin itu berdiri.  Hmm… cukup aneh, tapi rasanya pasti ada penjelasan fisika, kimia ,logaritma, integral dan alasan ilmiah lain yang dapat menjelaskan mengapa kita tidak bisa benar-benar berjalan lurus, dengan mata tertutup, di atas bumi..(hmm…pasti ada ya..).  Aku tidak lantas berpikir keinginanku tak akan tercapai, aku selalu yakin bahwa pintaku, inginku dapat kucapai selama aku menjaga proses pencapaian itu dengan sebaik-baiknya.
Tak terasa hari tambah sore, aku pun kembali ke penginapan, beristirahat sejenak sambil merencanakan acara untuk nanti malam.  Acara utama pastinya adalah makan di lesehan Malioboro, ditemani pengamen jalanan, ditemani pembaca puisi jalanan, ditemani pelukis jalanan, ditemani langit cerah penuh cinta Malioboro…

Tak Rapih=Bicara Cepat ?

Sebagai perempuan, aku termasuk orang yang ga rapih-rapih amat.  Jika menengok kamarku khususnya saat masa sekolah, maka biasanya buku-buku baik buku pelajaran, buku bacaan atau buku tulis sering tampak berserakan di meja atau tempat tidur .  Entahlah..kadang kamar yang selalu tampak rapih bagiku seperti kamar tanpa penghuni dan tanpa aktifitas…  apalagi jika buku-buku yang ada di kamar itu selalu tetap berada di tempatnya… heheh.. sepertinya mereka hanya  jadi hiasan saja dan aku mengartikannya buku-buku itu tidak pernah dibaca.  ( ini namanya pembelaan diri alias ngeles..  !! )
Biasanya hanya 3 hari –  4 hari sekali saja kamar itu aku rapihkan.  Buku dan barang-barang lain aku simpan kembali ke tempatnya dan beberapa jam kemudian kembali berantakan…. !!
Entah ada kaitannya atau tidak.. katanya, orang yang ‘ga rapih’ biasanya tulisannya pun jelek..  aha.. ini berlaku bagiku.  Tulisanku sejak dulu memang jelek kayak ceker ayam.  Seingatku, teman seangkatan di masa kuliah yang melakukan pe de ka te dengan cara klasik, yaitu meminjam catatan kuliah akan kapok melakukan strategi itu dan harus membuat strategi baru atau memutuskan untuk  minggat saja…  hahaha….
Ada juga yang mengaitkannya dengan cara aku berbicara yang temponya sangat cepat seperti kereta api.  Mungkin juga ya.. karena bawaanku ingin cepat selesai, maka saat menulis pun temponya sangat cepat hingga tulisan itu seperti tulisan sandi..  bisa saja tulisanku lebih bagus tapi tentu membutuhkan waktu yang lebih lama.. heheh.. ( ngeles lagi… !!).
Dan tentang tempo berbicara yang cepat ini, ada dua hal yang aku ingat hingga kini :
Pertama, dosenku dulu sempat memberikan komentar saat aku selesai memberikan asistensi praktikum mata kuliahnya… “ceu.. iceu kalo ngomong memang cepat ya…  “..   “ hehe.. iya.. maaf pak.. sudah bawaan orok… “ .. dan dosen itu tak memberikan komentar lagi.. dalam hatinya pasti ia berkata.. “bisa aja lu ngeles… !! “…
Kedua, saat diskusi di depan kelas tentang tatalaksana pemeliharaan ayam.. seharusnya aku mengatakan : salah satu cara menurunkan suhu di dalam kandang adalah dengan mengecat kandang ayam dengan warna yang tidak menyerap panas… dan saking cepatnya, maka kalimat yang keluar dari mulutku adalah….”. ..caranya adalah dengan mengecat ayam dengan warna yang tidak menyerap panas…. “  sontak saja semua teman satu kelas tertawa…

Tapi berantakan bukan berarti ga bersih lo .. kebersihan tetap jadi nomor satu ..

My Favorite Cartoon Film

Uppss… dah lama ga update blog ini.. bukan karena sibuk tapi memang ini kepala beberapa hari ini ga ‘on’ buat sekedar ketak ketik.  Semalam disapa sama sister santi…’ceu pa kabar…?’..hmm..terdengar jadi seperti sindiran karena ga ada yang baru di blog ini….hehhehe..
Tapi memang dasarnya belom ‘on’ meski disindir, digebuk, diapain kek..tetep aja ga ‘on’… so aku cuma mau bikin coretan yang ringan-ringan aja deh… tentang film-film kartun yang aku suka buannngett…  ga cuman begitu suka sama ceritanya tapi aku juga menganggumi keahlian si pembuat animasinya.
Jadi inget ketika mengerjakan proyek diknas dua taun lalu…membuat 55 CD interaktif mata pelajaran IPA dan Matematika.  Kebetulan ceritanya aku dikasih tugas sebagai pemateri dan  pembuat scenario ( hehe..bukan narsis.. karena memang  ga cukup membanggakan ..:) ), bagaimana materi pelajaran tersebut divisualisasikan dalam sebuah animasi.   Naa..waktu diserahkan ke animator, aku lihat sendiri proses pembuatan animasi dari materi/scenario yang aku bikin…eh ternyata bikin animasi tuh susah banget..apalagi dengan 3D..!!  bikin animasi orang lagi berjalan atau duduk saja, itu ternyata ga gampang.  Aku jadi bayangin..begitu hebat technology dan keterampilan para pembuat animasi di ‘luar’ sana hingga mampu menghasilkan film kartun yang luar biasa sempurna.
Naa..ini dia sebagian film kartun yang aku suka banget… buayak banget si..aku cerita beberapa aja..
Finding Nemo.  Seru banget, kisah tentang cinta antara bapak dan anaknya.  Cinta itu menghilangkan rasa takut, mengokohkan nyali hingga mempersatukan dua makhluk yang terpisah amat jauh.. ( hmm…ada ga sih cinta model gini untuk sepasang kekasih…?) dan yang pasti..animasinya oke buanget, kayak asli.
Chicken Little.  Lucu.. anak ayam yang lebih sering teraniaya dan tak dipercaya karena satu kesalahan, lalu ia bisa buktikan bahwa kesaksiannya melihat makhluk asing dari planet lain adalah benar.  Animasi nya penuh dengan imajinasi.
Chicken Run.  Naa ini,mungkin salah satu animasi dengan tiga dimensi..keren abis.  Ceritanya bagus, tentang ayam-ayam yang ingin membebaskan diri dari sang majikan.  Wuih.. animasi tiga dimensi yang bagus banget.
Madagaskar.  Kisah persahabatan beberapa ekor binatang yang berbeda ordo, family dan spesiesnya..hehe.. seru..!!
The Ant Billy.  Sebuah kebencian yang berubah jadi persahabatan antara manusia dan semut.  Bagus banget, ya animasinya ya ceritanya..mereka menjadi saling berempati.
Mulan.  Cerita tentang seorang anak putri di Jepang yang ingin membela tanah air, dengan menyamar menjadi pria agar ayahnya tidak dikirim ke medan perang.  Pada saat itu, anak puteri lain seusianya berada di pintu pernikahan.  Ada pesan dari sang ayah untuk Mulan yang aku selalu ingat..” bunga yang gugur paling akhir, biasanya adalah bunga yang paling harum dari sekian bunga yang ada di pohon.. ( hmm..deeply meaning..)”.
Wahh..masih banyak film kartun yang aku suka, jadi ga mungkin diceritain disini semua..ada Pocahontas, Brother Bear, Anastasia, The Land Before Time, Kungfu Panda, The Dinosaur,  Tarzan, The Ugly Duckling and Me, Happy Feet, The Incredibles, Franklin, Lilo and Stik..de el el.
Oya, bukan hanya kekaguman atas pembuatan karya film itu, namun jika ditarik benang merah dari film-film itu, semua membawa pesan dan mengajarkan sebuah budi pekerti luhur , tentang cinta, tentang persahabatan..tentang empati  dan kasih sayang  (hmm..jadi prihatin atas tayangan sinetron di negeri kita..).
Lalu, kalau aku cuma cerita film kartun luar, bukan berarti aku ga cinta produk dalam negeri.  Tapi memang tampaknya belum ada film kartun dalam negeri yang sekelas walt Disney, warner bross atau lainnya.  Beberapa film kartun karya anak negeri ini ( yang aku tahu..) adalah produk dari Harun Yahya, seri keagamaan, budi pekerti dan pendidikan.  Itu bagus banget.. salut deh !!
Finally.. I am very appreciating to all creators in this earth..!! For all Indonesian Artist.. keep your creation moving forward, giving the best for our lovely, Indonesia.

Usia Tidak Menjamin Kedewasaan Pribadi

Berkembangnya ketidakdewasaan pribadi seseorang dipengaruhi banyak hal, seperti pengalaman buruk masa lalu, pengasuhan orang tua yang tidak efektif, kondisi fisik kurang menguntungkan, kecenderungan sifat bawaan, factor keturunan dan nilai-nilai masyarakat sekitar yang kurang mendukung.  Untuk ringkasnya dibagi dua factor Internal (nature) dan eksternal (nurture).  Mengenai mana yang paling berperan,sampai saat ini para ahli masih menyakini gabungan dari kedua factor tersebut menjelaskan mengapa seseorang menunjukkan kepribadian tertentu, termasuk ketidakdewasaan dengan variasi pada masing-masing individu.
Banyak contoh di masyarakat kita bahwa ketidakdewasaan seseorang banyak disebabkan oleh pola pengasuhan orang tua.  Misalnya tiga bersaudara di dalam rumah, sang adik yang lebih dimanjakan oleh sang ibu akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang dewasa pada umur kronologis(biologis)nya dibandingkan kedua kakaknya.  Bisa jadi pola yang diterapkan sang ibu pada adik berbeda dengan pola pada anak lain karena ia besar tanpa ayahnya. (ayahnya meninggal saat anak bungsu masih kecil).
Pengasuhan
Pengasuhan adalah serangkaian perbuatan dan interaksi orang tua yang bertujuan mendukung perkembangan anak, merupakan proses orang tua dalam berinteraksi dengan anak, berlangsung terus menerus antara orang tua, anak dan lingkungannya.  Pengasuhan bukan proses satu arah hanya orang tua yang berpengaruh kepada anak,  tetapi merupakan interaksi timbal balik antara mereka yang juga dipengaruhi factor lebih luas, seperti budaya dan social.
Beberapa factor yang berpengaruh terhadap pengasuhan diantaranya karakteristik dan kepribadian serta pengalaman masa lalu orang tua, karakteristik dan kepribadian anak (misal anak kaku dan mudah membujuk) serta konteks pengasuhan (seperti status social ekonomi, struktur keluarga, urutan kelahiran anak, jumlah orang tua dalam keluarga, jarak usia antar anak).  Dengan demikian pengasuhan antara orang tua dan anak yang satu bisa berbeda dengan anak yang lain.
Penanganan
Pada contoh kasus di atas maka cara paling efektif adalah dengan mengubah pola pengasuhan yang terjadi antara ibu dan adik bungsu.  Dalam hal ini, ibu harus lebih tegas dan asertif menghadapi anak bungsunya.  Bila menemui kesulitan maka dapat dicarikan orang ketiga, yaitu orang yang mempunyai wibawa di mata ibu, bisa anggota keluarga sendiri atau pergi ke konsultan ahli.
Di sisi lain, anggota keluarga yang lain, yaitu kakak-kakak, dapat membantu misalnya dengan cara mendekati atau meminta bantuan teman-teman adik bungsunya untuk memberi penyadaran pada sang adik, atau dengan menunjukkan sikap tegas misalnya dengan mengonfrontasi adik mengenai pengetahuan kita tentang nilai buruk adik bungsu.  Hal ini tentunya dapat dilakukan bila kakak-kakak sudah menunjukkan sikap terbuka, akrab, tetap mengasihi dan peduli kepada adik maupun ibu.